Mengapa lebih dari 600 ribu Sarjana menganggur?

“Pemerintah perlu terus melakukan pembinaan agar setiap perguruan tinggi menyelenggarakan perkuliahan yang benar-benar mengembangkan pengetahuan, sikap-sikap mulia, keterampilan berpikir, berkomunikasi serta berkolaborasi, dan kemahiran menggunakan teknologi. Sambil menunggu hal itu terwujud, calon-calon mahasiswa perlu dibantu agar selektif memilih perguruan tinggi. Jika salah pilih, mereka akan bergabung dengan 616.000 sarjana nganggur itu.”

PP

[Jakarta, VoE of FKIP UKI] Laporan ini adalah bagian ketiga hasil wawancara Redaksi VoE dengan Bapak Parlindungan Pardede, Dekan FKIP UKI, yang dilakukan dalam rangka menyambut Peringatan Hari  Pendidikan Nasional, 2 Mei 2018. Bagian pertama wawancara pada 30 April 2018 itu, yang berfokus pada peran teknologi di dunia pendidikan di Abad-21, telah kami publikasikan dengan judul Teknologi akan Rampas Profesi Guru dan Dosen? Bagian kedua berfokus pada hakikat dan manfaat penggunaan teknologi dalam pembelajaran, yang dipublikasikan dengan judul Online Learning: Untuk Gagah-Gagahan, atau Karena Kebutuhan? Bagian ketiga ini membahas tentang fenomena banyaknya sarjana yang menganggur di Indonesia.

Redaksi VoE FKIP UKI (VoE): Menurut Metrotvnews.com, edisi Senin, 26 Maret 2018,  Menristekdikti, Mohamad Nasir, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap banyaknya sarjana yang menganggur. Dikatakan bahwa sekitar 8,8% dari total 7.000.000 pengangguran di Indonesia adalah sarjana. Menurut Bapak, mengapa sekitar 616.000 lulusan S-1 itu menganggur?

Sarjana nganggurParlindungan Pardede (PP): Jika ditanya mengapa begitu banyak sarjana yang menganggur, banyak faktor penyebabnya. Menurut saya ada tiga penyebab utama. Pertama, mungkin saja pertumbuhan ekonomi sedang rendah, hingga para pengusaha enggan melakukan ekspansi bisnis. Akibatnya, lapangan pekerjaan yang tersedia tidak bertambah. Kedua, mungkin juga kualifikasi keahlian para sarjana itu tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Misalnya, lowongan kerja yang banyak tersedia adalah bisnis jasa. Tapi  para sarjana itu lulus dari program studi yang tidak terkait bisnis jasa. Ketiga, bisa saja para sarjana itu tidak menguasai kompetensi bidang keilmuannya dengan baik. Akibatnya, mereka tidak kompeten mengerjakan tugas sesuai dengan pendidikannya.

VoE: Di antara tiga faktor itu, menurut Bapak, mana yang berpengaruh paling besar?

PP: Untuk menjawab faktor mana yang paling berpengaruh, diperlukan analisis interdisiplin, khususnya yang terkait dengan pembangunan ekonomi dan industri. Selain itu, saya bukan ahli bidang ekonomi, perencenaan pembangunan, maupun perencanaan sumber daya manusia. Jadi, biarlah faktor pertama dan kedua dibahas oleh pakar dibidang itu. Kita fokus pada faktor ketiga saja.

VoE: Sepakat, Pak. Karena perbincangan ini dalam rangka memperingati Hardiknas, kita membahas fenomena sarjana menganggur ini dari sisi pendidikan. Tadi Bapak katakan dari sisi pendidikan, kemungkinan penyebab menganggurnya lebih dari 600.000 sarjana itu adalah karena mereka tidak menguasai kompetensi bidang keilmuannya dengan baik. Mohon penjelasan lebih lanjut, Pak.

PP: Bukan rahasia umum bahwa saat ini pembelajaran di berbagai institusi pendidikan tinggi masih banyak berlangsung dengan gaya perkuliahan zaman old. Mahasiswa datang ke kelas, mencatat ceramah dosen, ada sedikit tanya jawab. Lalu perkuliahan selesai. Di pertengahan dan di akhir semester dilakukan ujian. Isinya berupa pertanyaan: “Apa yang dimaksud dengan X?” “Tuliskan definisi X, Y, dan Z menurut si Badu.” “Apa saja yang menyebabkan peristiwa …?” Dengan gaya perkuliahan seperti ini, mahasiswa paling banter hanya menguasai teori. Itupun hanya sepotong-sepotong. Dengan kemampuan seperti itu, tidak mungkin mereka kompeten melakukan pekerjaan apapun.

VoE: Berarti, perguruan tinggi yang bersangkutan, dong, yang bermasalah, Pak.

PP: Itu fakta. Dan perguruan tinggi yang seperti itu sebenarnya sedang melakukan malpraktik. Perkuliahan yang berlangsung hanya dengan menjejali informasi kepada mahasiswa sangat tidak relevan lagi saat ini. Kalau hanya untuk memperoleh informasi saja, ngapain kuliah? Kuliah saja bersama Google. Internet jauh lebih hebat dari siapapun dalam hal penyediaan informasi.

VoE: Lalu, perkuliahan yang relevan untuk zaman now, yang bagaimana, Pak?

PP: Pembelajaran dengan tiga kharakteristik. Pertama, aktivitas pembelajaran melibatkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik serta melatih semua tingkatan berpikir yang dirumuskan Bloom. Kedua, pembelajaran memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media; dan pembelajaran membuat setiap mahasiswa terlibat aktif.

VoE: Bisa Bapak elaborasi apa yang bapak maksud tentang pembelajaran dengan aktivitas yang melibatkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik serta melatih semua tingkatan berpikir yang dirumuskan Bloom?

unemploymentPP: Dalam perkuliahan, penguasaan informasi (konsep, teori, data) hanyalah salah satu, bukan satu-satunya, tujuan. Informasi justru  harus digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan kognisi, afeksi, dan psikomotor dengan cara memfasilitasi mahasiswa menggunakan semua tingkatan berpikir ala Bloom (mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi informasi itu, dan bahkan berkreasi atau menciptakan sesuatu). Sebagai contoh, jika mahasiswa sedang mempelajari topik “Culture Shock”, di awal, mahasiswa dapat diminta membaca artikel, bab buku teks, dan menonton video tentang topik itu. Setelah itu mahasiswa diminta mengerjakan quiz untuk melihat apakah dia sudah menguasai konsep tersebut. Setelah itu, mahasiswa diminta melakukan survei kepada anggota masyarakat (sebaiknya orang asing) untuk menguji validitas konsep tentang faktor-faktor penyebab, bentuk dan dampak “Culture Shock”. Sebagai penutup, mahasiswa dapat diminta menulis makalah, atau membuat video, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya. Terlihat jelas bukan, pembelajaran seperti ini melibatkan unsur kognisi, afeksi, dan psikomotor si mahasiswa. Semua tingkatan berpikirnya juga ikut terlatih.

VoE: Tadi, ketika kita membicarakan hakikat dan manfaat penggunaan teknologi, pembelajaran dengan aktivitas yang memanfaatkan TIK sebagai media sudah sangat jelas. Namun, bagaimana dengan pembelajaran yang membuat setiap mahasiswa terlibat aktif, Pak?

teachingMGPP: Di setiap perkuliahan, sebenarnya pihak yang belajar adalah mahasiswa. Jadi, yang paling aktif harusnya mahasiswa. Makanya paradigma yang terbukti efektif sekarang adalah “students-centered learning,” bukan “teacher-centered learning”. Jika mahasiswa masih pasif, pembelajaran belum terjadi.

Ketika kita membicarakan pembelajaran dengan aktivitas yang melibatkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik serta melatih semua tingkatan berpikir yang dirumuskan Bloom tadi, sangat jelas terlihat bahwa si mahasiswa terlibat penuh dalam setiap tahapan pembelajaran, mulai dari membaca teks, menonton film, mengerjakan quiz, melakukan survei, menganalisis validitas konsep, dan membuat makalah. Keterlibatan itu dapat ditingkatkan dengan aktivitas diskusi kelompok maupun mengerjakan proyek secara berkelompok. Pembelajaran online juga meningkatkan keterlibatan mahasiswa, baik ketika mengakses materi kuliah, menegerjakan quiz online, maupun ketika membuat, menyerahkan dan merevisi tugas, Dan jangan lupa, lho, kecanggihan teknologi membuat diskusi dan mengerjakan proyek secara berkelompok mudah dilakukan.

VoE: Wah…, jika setiap perkuliahan memenuhi tiga kriteria itu, hasilnya akan total dan top markotop, ya, Pak.

PP: Betul! Perkuliahan yang menerapkan tiga karakteristik itu akan membuat mahasiswa tidak hanya menguasai konsep, tetapi juga terampil dalam berpikir kritis, berpikir kreatif, berkomunikasi, dan bekerjasama. Sikap jujur, disiplin, gigih, suka bekerja keras, tidak gampangan, dan sikap-sikap mulia lainnya juga akan terbangun. Selain itu, karena mahasiswa harus terjun ke lapangan untuk meneliti, mensurvei, dan sebagainya, ranah psikomotoriknya juga terlatih. Yang terakhir, namun tidak kalah penting, si mahasiswa menjadi terlatih menggunakan teknologi untuk tujuan yang benar (tidak hanya untuk “nge-game online” mulu). Jadi, information, media and technology skills-nya berkembang, dan keterampilan ini sangat dibutuhkan di Abad-21, baik dalam kehidupan sehari-hari, maupun di dunia kerja. Dengan kompetensi yang mumpuni seperti itu, setiap sarjana pasti mudah diterima bekerja di mana pun.

VoE: Setuju, Pak. Sarjana dengan kompetensi seperti itu bukan hanya potensial memperoleh, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan. Orang yang kritis, kreatif, komunikatif, pekerja keras, dan gigih pastilah memenuhi syarat menjadi entrepreneur. Yang jadi masalah adalah, belum semua perguruan tinggi menerapkan perkuliahan seperti yang Bapak jelaskan tadi. Saran bapak?

PP: Saya kira, Pemerintah perlu terus melakukan pembinaan agar setiap perguruan tinggi menyelenggarakan perkuliahan yang benar-benar mengembangkan pengetahuan, sikap-sikap mulia, keterampilan berpikir, berkomunikasi serta berkolaborasi, dan kemahiran menggunakan teknologi. Sambil menunggu hal itu terwujud, calon-calon mahasiswa perlu dibantu agar selektif memilih perguruan tinggi. Jika salah pilih, mereka akan bergabung dengan 616.000 sarjana nganggur itu.

 

Sumber Gambar:

  1. Congratulation Grads–> Unemployment: https://www.kompasiana.com/triapriansyah/sarjana-pengangguran-apa-solusinya_585f605f109773e3211975f3
  2. I want to work: http://blog.nj.com/njv_editorial_page/2010/09/no_direction_home_recession_le.html
  3. SCL: https://www.tes.com/lessons/IQDV_M01T023TQ/students-centered-learning

Author: fkipukijakarta

VoE (Voice of Educators) of FKIP UKI merupakan saluran berbagi berita, agenda, agenda dan ide tentang pendidikan dari sivitas akademika serta alumni FKIP UKI Jakarta.

14 thoughts on “Mengapa lebih dari 600 ribu Sarjana menganggur?”

  1. Sangat setuju dengan elaborasi tentang hakekat pembelajaran berpusat pada siswa yang medium pencapaiannya menggunakan teori Bloom: Kognitif, Afektif dan Psikomotor. Ranah tertinggi domain pengetahuan kognitif, create, memberikan clue kepada kita semua bahwa belajar di tingkat Pendidikan Tinggi mestinya diarahkan pada kompetensi creativity, thinking outside the box making something innovative product.

    Dengan mengadalkan teknologi sistem informasi, lebih lanjut, yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, maka pemberhasilan dan pembentukan generasi-generasi bangsa yang berbasis pada Otoritas Intelektual praktis tidak pernah akan menjadi sebuah tantangan.

    Sebagai praktisi pendidikan saya banyak belajar hal tersebut di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UKI yang bermotto “Melayani bukan dialayani” ini. Pembelajaran yang berorientasi pada penciptaaan produk oleh setiap mahasiswa pada setiap Matakuliah merupakan bukti FKIP UKI berada dalam jalur yang benar dan berterima. Nah skill yang terlatih Inilah nantinya akan menjadi modal utama para alumni kreatif di tempat kerja masing masing.

    Harapannya, ketulusan dan perkembangan perserta didik kita kedepan yang terikat oleh nilai enterpneurhip, high order thinking, Dan praktis-pragmatis akan menjadi bagian mereka yang tidak pernah terpisahkan.
    Bravo FKIP UKI
    💪

    Liked by 1 person

  2. Reblogged this on SANIAGO DAKHI and commented:
    Sangat setuju dengan elaborasi tentang hakekat pembelajaran berpusat pada siswa yang medium pencapaiannya menggunakan teori Bloom: Kognitif, Afektif dan Psikomotor. Ranah tertinggi domain pengetahuan kognitif, create, memberikan clue kepada kita semua bahwa belajar di tingkat Pendidikan Tinggi mestinya diarahkan pada kompetensi creativity, thinking outside the box making something innovative product.

    Dengan mengadalkan teknologi sistem informasi, lebih lanjut, yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, maka pemberhasilan dan pembentukan generasi-generasi bangsa yang berbasis pada Otoritas Intelektual praktis tidak pernah akan menjadi sebuah tantangan.

    Sebagai praktisi pendidikan saya banyak belajar hal tersebut di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UKI yang bermotto “Melayani bukan dialayani” ini. Pembelajaran yang berorientasi pada penciptaaan produk oleh setiap mahasiswa pada setiap Matakuliah merupakan bukti FKIP UKI berada dalam jalur yang benar dan berterima. Nah skill yang terlatih Inilah nantinya akan menjadi modal utama para alumni kreatif di tempat kerja masing masing.

    Harapannya, ketulusan dan perkembangan perserta didik kita kedepan yang terikat oleh nilai enterpneurhip, high order thinking, Dan praktis-pragmatis akan menjadi bagian mereka yang tidak pernah terpisahkan.
    Bravo FKIP UKI
    💪

    Like

  3. Tantangan kita bukan hanya perkembangan melainkan “bahan bakunya”. Jika kualitas bahan baku grade 5 maka tidak sulit untuk upgrade. Bagaimana dengan kualitas “bahan baku” di bawah grade 5? Bagi saya, itu anugerah Tuhan bagi kita. Sebab jika kita dipercayakan “bahan baku” di bawah grade 5 namun oleh pertolongan Tuhan kita bisa meningkatkannya maka itu luar biasa.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.