Kuliah di Prodi Pendidikan Fisika Membuat Impian Jadi Kenyataan

David1

Sewaktu SMA, saya lebih menguasai pelajaran Matematika ketimbang Fisika. Bahkan saya pernah ikut Olimpiade Matematika tingkat kota mewakili sekolah. Ketika lulus SMA, saya mendaftar ke prodi Pendidikan Matematika di PTN yang ada di Jakarta. Mulai jalur SNMPTN, SBMPTN, sampai seleksi mandiri saya ikuti, ternyata kuliah di PTN belum rezeki saya.

Saya lalu teringat pada Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang saya kenal lewat pameran perguruan tinggi dan pendidikan di JCC Senayan. Ternyata UKI mengasuh Prodi Pendidikan Matematika. Bersama Bapakku, saya bergegas ke UKI untuk mendaftar. Sayangnya skema biaya kuliah di Prodi Pendidikan Matematika tidak sesuai dengan kemampuan finansial keluarga saya. Sayapun mengalihkan pilihan ke Prodi Pendidikan Fisika yang skema pembiayaannya relative sesuai dengan kondisi keuangan keluargaku. Saya diterima masuk UKI memilih jalur rapor, karena nilai Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika di raporku diatas 7,5.

Kuliah di Prodi Pendidikan Fisika UKI diawali dengan kegiatan Program Pembinaan Mahasiswa Baru (PPMB). Selama program ini saya memperoleh beberapa teman baru. Kami dikenalkan dengan lingkungan UKI dan sistem pembelajaran di kampus. Saya dan teman-teman juga dilatih untuk disiplin, siap bekerja dan belajar keras dan saling menghargai. Kami juga diberi pelatihan oleh tentara dalam hal bela negara.

Setelah PPMB, saya menikmati perkuliahan pertama dengan teman-teman baru yang ramah-ramah dan bertemu dosen-dosen yang bersahabat. Tidak lama setelah perkuliahan pekan awal, saya dan teman-teman angkatan 2016 dibekali kuliah umum wawasan kebangsaan bersama Ibu Gusti Kanjeng Ratu Hemas, Wakil Ketua DPD RI.

David2Selama empat semester kuliah di Prodi Pendidikan Fisika FKIP UKI, saya tidak hanya dibekali ilmu Fisika dan Kependidikan. Saya juga dilatih belajar berorganisasi, mampu berkomunikasi secara santun kepada dosen maupun antar mahasiswa serta para karyawan yang ada di kampus. Dosen yang ada di prodiku memiliki beragam karakter. meskipun begitu, mereka semua sangat ramah dalam membimbing, tampil energik dan menghargai karya mahasiswa. Kadang ada dosen yang membimbing berdasarkan nilai-nilai Kristiani agar calon guru FKIP UKI dapat menjadi guru yang teladan seperti Yesus.

Fasilitas laboratorium Fisika pun cukup lengkap untuk memenuhi pembelajaran. Belajar Fisika tidak hanya terjadi di ruang perkulihan dan di laboratorium, namun belajar mengasah kreatifitas dalam pembuatan alat peraga serta melakukan kunjungan studi banding atau observasi di luar kampus untuk memenuhi wawasan yang seluas-luasnya tentang sains di sekitar kita.

Aktivitas yang pernah saya lakukan bersama teman-teman di luar kampus adalah melakukan kunjungan ilmiah ke Planetarium Jakarta pada tahun 2017, mengikuti ON-MIPA Tingkat Jabodetabek tahun 2017 dan 2018, Olimpiade Sains Mahasiswa Tingkat Nasional di Yogyakarta tahun 2017, Studi Banding ke Jurusan Fisika Universitas Negeri Semarang tahun 2018, serta melakukan kunjungan observasi ke Kantor Pusat BATAN di Kuningan pada akhir semester 4.

Tidak hanya itu, pengalaman yang saya alami dari mimpi menjadi kenyataan. Berkat kuliah di Prodi Pendidikan Fisika FKIP UKI, saya dapat mengenali lingkungan seluas-luasnya dan akan menjadi guru Fisika yang melayani bukan dilayani. Kita diajarkan untuk selalu bersyukur dalam hal apapun. Kuliah di Prodi Pendidikan Fisika FKIP UKI juga tidak kalah serunya dengan kuliah di PTN ataupun kampus lainnya. Malah kita bisa akrab sama prodi lain sefakultas maupun antar fakultas.

Terima kasih Prodi Pendidikan Fisika FKIP UKI. Semoga sukses dan jayalah selalu!

david3.jpg

Tulisan ini disertakan dalam  Lomba Menulis Konten VoE FKIP UKI 2018.


Identitas Penulis:

David Franklin Mandala

Pendidikan Fisika

Angkatan 2016


 

Bermetamorfosa Melalui Prodi Pendidikan Kimia UKI

Vironi1

Sejak SMA kelas 12 saya senang memperhatikan seseorang yang sedang bekerja di laboratorium. Bayangan seseorang dengan Jubah putih panjang dengan masker dan sarung tangan yang sedang memegang beaker glass dan pipet tetes selalu terngiang di khayalanku. Demi mewujudkan impian itu saya mengikuti seleksi penerimaan calon mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Mulai dari SNMPTN sampai UM semua telah di lalui. Namun, Tuhan berkehendak lain, mulai dari SNMPTN hingga UM saya tidak bisa lulus seleksi. Sedih?? … ya … marah?? … pasti … kecewa?? … sangat. Itulah yang saya rasakan pada saat itu.

Terus terang, awalnya saya tidak tahu kalau di Universitas Kristen Indonesia ada Prodi Pendidikan Kimia. Saya tahu jurusan ini dari informasi yang di berikan oleh saudara saya. Singkat cerita saya resmi menjadi mahasiswa baru prodi pendidikan kimia. Walau masih terbilang prodi baru, semangat kami sebagai mahasiswa/i prodi pendidikan kimia untuk berkarya dan berinovasi masih membara. Selain proses pembelajaran di dalam ruangan (lab. Kimia dasar, lab. Biokimia dan ruang kelas) kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menambah kemampuan softskill seperti studi lapangan ke LIPI , kuliah umum, kunjungan ilmiah ke IPB Bogor, roadshow ke beberapa SMA, mengikuti event pendidikan kimia di universitas lainnya dan yang lebih kerennya lagi prodi kami juga berhasil lolos PKM-Penelitian.

Pada suatu hari salah satu dosen kami memberi pengumuman akan dilaksanakannya ONMIPA di Yogyakarta dan akan di seleksi siapa yang akan menjadi perwakilan UKI ke Yogya. Hari pengumuman seleksi pun tiba. Tak disangka, saya terpilih sebagai perwakilan UKI untuk mengikuti ONMIPA bidang kimia bersama teman dan senior lainnya. Walaupun belum berhasil, kami tidak patah semangat. Bu Elferida selaku dosen pembimbing tetap memotivasi kami. Ditambah lagi dengan dukungan dari bu Familia yang mengatakan “…. kalian itu sudah hebat loh…. “. Ini kan yang pertama kita ikut dalam lomba ini. Kalau sudah berpengalaman, pasti hasilnya berbeda…”

Walaupun saya dan teman-teman belum berhasil jadi juara ketika itu, saya tetap percaya kalau pengalaman adalah guru terbaik sepanjang masa dan tanpa kegagalan kita tidak akan pernah bisa berproses. Mulai dari situlah saya mulai mengikuti berbagai macam perlombaan yang ada. Menang atau kalah urusan belakangan yang penting saya sudah berusaha maksimal. Beberapa lomba mulai saya ikuti dengan bantuan bimbingan dan motivasi dari dosen prodi kimia. Mulai dari lomba di tingkat universitas hingga tingkat nasional saya ikuti.

Vironi3Lomba tingkat universitas yang pernah saya ikuti seperti olimpiade mini bidang Kimia sebagai juara 1 dan lomba debat antar fakultas UKI. Sedangkan, pada lomba tingkat nasional yang saya ikuti berupa lomba essay dan ONMIPA bidang kimia di Yogyakarta. Bukan itu saja, saya juga berhasil mendapatkan piagam penghargaan dari PPSSHB (Punguan Pomparan Situmorang Suhut nihuta dohot Boruna) sebagai mahasiswa berprestasi.

Hal yang membuat saya bangga adalah ketika pembacaan mahasiswa berprestasi dari PPSSHB. Saya bisa berdiri tegak dengan almamater biru dan sejajar dengan mahasiswa berprestasi lain, termasuk dari PTN (UNJ, UI, dll) . Dengan cara ini minimal saya dapat mengenalkan Prodi Kendidikan Kimia FKIP UKI.

Semua ini tidak bisa kami capai tanpa bantuan dosen dosen kami yang luar biasa. Waktu, motivasi, dan dukungan diberikan secara cuma-cuma demi keberhasilan setiap mahasiswa/i nya. Saya tidak akan lupa setiap ciri khas “cara mendidik” dosen prodi pendidikan kimia yang mampu membuat saya bermetamorfosa (metamorfosa = perubahan/pembaharuan). Ibu Sumi yang selalu mendukung, Ibu Elferida yang sangat menjunjung tinggi attitude, Ibu Nova dengan nasihatnya “kalau kamu memperlakukan seseorang dengan seperti itu, coba balikkan ke diri sendiri apakah mau diperlakukan seperti itu?? Ibu Familia sebagai teman curhat tugas dan permasalahan, Ibu Siti dengan kedisiplinan terhadap waktu, Ibu Leony dengan cara mengajarnya yang unik, hingga Pak Nelius dengan cerita inspiratifnya di masa kuliah beliau. Berkat jasa merekalah saya bisa sampai seperti ini. Saya akan berusaha bermetamorfosa dengan sempurna karena kesuksesan tidak dilihat dari hasil akhirnya tetapi melalui prosesnya.

Vironi2

Tulisan ini disertakan dalam  Lomba Menulis Konten VoE FKIP UKI 2018.


Identitas Penulis:

Vironi Tio Lasminar

Pendidikan Kimia

Angkatan 2016


 

Mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP-UKI: Calon Pendidik Dengan Kompetensi Ilmuwan

Untuk menjadi pendidik yang unggul, penguasaan bidang ilmu yang akan diajarkan adalah syarat mutlak. Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi FKIP UKI terlihat sangat menyadari hal ini hingga mereka tak kenal lelah melakukan penelitian sebagai salah satu bagian pembelajaran untuk menguasai bidang Biologi secara mumpuni. Kesan ini tertangkap ketika Redaksi VoE FKIP UKI bertandang ke Greenhouse Pendidikan Biologi pada hari Kamis, 7 Juni 2018 yang lalu.

selada.jpg

Sekelompok mahasiswa semester 6 Prodi Pendidikan Biologi terlihat sedang mengamati berbagai tanaman yang ada di fasilitas penelitian itu, seperti sawi, melon, terong, cabe rawit, pakcoy, selada dan kacang panjang. Mereka juga dengan tekun mengukur panjang batang, lebar dan panjang daun, mencatat warna daun, dan menghitung jumlah daun, jumlah bunga, jumlah buah dan sebagainya.

Salah seorang dari sekelompok mahasiswa itu, Rita Maghdalena Situmorang, menjelaskan bahwa mereka sedang melakukan penelitian sebagai bagian dari aktivitas mengikuti mata kuliah “Anatomi, Fisiologi, dan Perkembangan Tumbuhan” yang diampu oleh Dr. Marina Silalahi, M.Si. “Penelitian ini dilakukan agar kami, mahasiswa, memahami proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu, kami juga memahami mengapa  pemupukan perlu dilakukan untuk menghasilkan tanaman yang baik dan subur,” terang Rita.

Setiap mahasiswa ditugaskan melakukan penelitian sendiri-sendiri. Sebagai contoh, seorang mahasiswa mengkaji pengaruh pupuk kandang kotoran ayam terhadap pertumbuhan dan perkembangan cabai rawit (Capsicum Frustescens L.). Seorang mahasiswa lain fokus pada  pengaruh pupuk KCL terhadap pertumbuhan dan perkembangan melon (Cucumis melo L.). Mahasiswa-mahasiswa lainnya meneliti pengaruh pupuk lainnya seperti pupuk NPK, pupuk sintetik (ajinomoto), air beras, dan sebagainya,” imbuh Rita.

greenhouseIbu Marina Silalahi, pengampu mata kuliah “Anatomi, Fisiologi, dan Perkembangan Tumbuhan” yang membimbing para mahasiswa melakukan penelitian tersebut menjelaskan bahwa semua tahapan persiapan, seperti penyemaian benih tanaman yang akan diteliti, pemindahan ke lahan, hingga pelaksanaan penelitian dilakukan para mahasiswa secara mandiri. “Setiap dua hari dalam kurun waktu empat bulan, para mahasiswa datang ke greenhouse untuk meneliti proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman masing-masing. Setelah itu, mereka harus membuat laporan masing-masing secara komprehensif,” tutur Bu Marina.

Muncul rasa bangga dan bahagia menyaksikan para mahasiswa ini melakukan tugas dengan penuh semangat dan sukacita.  Semoga semangat dan sukacita meneliti seperti ini terus berkobar dalam diri mereka. Dengan semangat dan ketekunan seperti itu, mereka dapat diharapkan menjadi pendidik jempolan (pendidik dengan kompetensi ilmuwan). Sungguh, bangsa dan negara tercinta menunggu kontribusi kalian!.

Manfaat Belajar dengan “Native Speaker” di Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin FKIP UKI

Ketika mempelajari suatu bahasa asing, keberadaan penutur asli (native speaker) terbukti memberikan banyak manfaat. Salah satu manfaat belajar dengan penutur asli adalah pemerolehan aksen dan lafal yang otentik. Kedua, interaksi dengan penutur asli memberikan dorongan yang kuat bagi pelajar untuk terus berupaya menguasai kosa kata maupun struktur Bahasa yang dipelajari. Manfaat lainnya adalah bahwa penutur asli dapat menjelaskan latar belakang budaya yang diperlukan untuk memahami gestur, etika, maupun sikap yang perlu dipahami sewaktu berkomunikasi.

ChineseBerbagai manfaat belajar dengan dosen Mandarin yang langsung datang dari Tiongkok sangat dirasakan oleh mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin FKIP UKI. Sara Tri Christina, salah seorang mahasiswa di prodi ini menjelaskan keberadaan dosen penutur asli berdampak besar dalam pembelajaran yang diikutinya. Melalui mata kuliah Listening (听力) yang diasuh native speaker, misalnya, Sara mengaku sangat terbantu mengembangkan kemampuan menyimak ungkapan-ungkapan Bahasa Mandarin. “Dalam mata kuliah Speaking (口语) kami dibimbing oleh dosen native speaker untuk berbicara dalam bahasa mandarin dengan lafal, tone dan nada yang benar dan tepat,” imbuh Sara.

Selain itu, dosen native speaker merupakan teman berlatih yang baik untuk berkomunikasi dalam Bahasa Mandarin. “Oleh karena itu, mahasiswa/i kami selalu memanfaatkan kehadiran dosen native speaker untuk berkomunikasi langsung dengan mereka, termasuk kesempatan berkomunikasi di luar jam perkuliahan. Hal ini juga didukung kesediaan si native speaker untuk memberi koreksi dan masukan kepada mahasiswa jika ada kesalahan pengucapan. Dengan demikian, mahasiswa/i dapat mengetahui dan memperbaiki kesalahannya. Dampaknya? Mereka semakin berani untuk berkomunikasi dalam Bahasa Mandarin,” tutur Ibu Dewi Sulitiyowati, M.Hum., Kaprodi Pendidikan Bahasa Mandarin.

PS Mand

Semoga program dan fasilitas yang telah dimiliki dan terus dikembangkan semakin mampu membuat Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin FKIP UKI menghasilkan alumni-alumni yang professional dan kompeten di bidang Bahasa Mandarin—bahasa yang telah berkembang menjadi salah satu bahasa internasional terpenting di dunia.

Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin Kenalkan Budaya dan Kesenian Tiongkok di Rawaselang

[Cianjur, VoE FKIP UKI] Aksi Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) FKIP UKI di Desa Rawaselang, Sindang Jaya, Cianjur pada pada tanggal 8–10 Maret 2018 membuat suasana Tiongkok terasa begitu kental di SMP Pusaka, yang menjadi lokasi utama PkM tersebut.

KaligrafiDewi Sulitiyowati, M.Hum., Kaprodi Pendidikan Bahasa Mandarin menjelaskan, “Yang terkait dengan Mandarin relatif baru bagi warga Desa Rawaselang, termasuk bagi siswa/i SMP Pusaka. Oleh karena itu Panitia dan pihak sekolah sepakat kegiatan yang digelar Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin diprioritaskan pada pengenalan budaya dan seni Tiongkok. Oleh karena itu, Tim PKM Prodi Pendidikan Bahasa Mandarin yang terdiri dari dosen dan mahasiswa mengemas program pengabdian ini dalam bentuk aktivitas penulisan Kaligrafi Tinghoa, pelatihan wushu, dan pembuatan Simpul Cina, dengan partisipan siswa/i SMP Pusaka.”

WushuPenulisan Kaligrafi Tinghoa, yang dikenal dengan nama Hanzi (seni menulis tanda-tanda bahasa Mandarin dengan menggunakan kuas dan tinta), berlangsung seru. Dengan antusias, siswa/i yang dibagi dalam dua kelompok di dua ruangan kelas berbeda mengikuti penjelasan dan petunjuk yang diberikan. Meskipun pada awalnya terlihat sulit, berkat ketekunan mereka, dalam waktu sekitar satu jam para siswa berhasil menyelesaikan pelatihan itu. Dengan bangga, mereka menunjukkan hasil karyanya kepada Tim PkM. Bahkan, siswa/i yang telah menyelesaikan pekerjaaannya memberikan bantuan kepada teman-temannya yang belum berhasil.

3Pelatihan Wushu berlangsung pada hari Sabtu, 10 Maret 2018 pagi. istilah Wushu berasal dari dua kata yaitu “Wu” (ilmu perang) dan “Shu” (seni). Jadi, Wushu pada hakikatnya merupakan seni untuk berperang atau seni beladiri (martial art). Setelah melakukan pemanasan, Tim PkM Mandarin kemudian memperagakan 10 gerakan Wushu yang diikuti oleh para peserta. Peragaan gerakan-gerakan itu diselingi penjelasan tentang esensi Wushu meningkatkan hidup sehat, selain itu untuk perlindungan diri. Uniknya, Tim PkM dari program studi lain, dengan serius, juga mengikuti pelatihan ini.

Pembuatan Simpul Cina dilakukan setelah kegiatan Wushu. Kali ini, peserta dilatih membuat gelang dengan bahan dasar tali dan hiasan mote-mote. Dengan bekerja secara kelompok (5 anggota/kelompok) para peserta berhasil membuat simpul yang cukup cantik. Dengan sukacita, mereka mengenakan gelang buatan mereka sendiri itu sebagai kenang-kenangan.

PKM