Menyambut Hari Sarjana Nasional, Prodi Kimia Gelar Seminar Tantangan Guru Masa Depan

Jakarta, VoE of FKIP UKI. Diantara berbagai hari perayaan, Hari Sarjana Nasional yang jatuh pada tanggal 29 September terkesan belum begitu populer. Belum begitu banyak kalangan, termasuk yang sudah bergelar sarjana menyelenggarakan aksi konkrit untuk memperingatinya. Padahal tujuan penetapan Hari Sarjana Nasional adalah untuk mengapresiasi para sarjana. Sebagai insan yang telah berhasil mencapai strata intelektualitas tinggi merupakan aset bangsa dan sekaligus salah satu penentu kemajuan bangsa.

pelatihan-gr-kimia-2.jpgProgram Studi Pendidikan Kimia FKIP UKI merupakan salah satu lembaga yang melakukan tindakan nyata untuk memberi makna pada Hari Sarjana Nasional 2016. Dr. Sumiyati, M.Pd., Kaprodi Pendidikan Kimia FKIP UKI, menjelaskan bahwa Hari Sarjana Nasional 2016 ingin dijadikan sebagai momen berbagi untuk meningkatkan kompetensi guru melalui seminar berjudul “Tantangan Guru Masa Depan Dalam Pendidikan Karakter Menghadapi Perkembangan ICT dan Lingkungan Hidup”.

Dalam sambutannya, Parlindungan Pardede, Dekan FKIP-UKI, menyakan “Di era dijital saat ini, para pendidik dituntut tidak  hanya mengembangkan ranah kognitif peserta didik. Perkembangan ICT yang begitu cepat dan telah merasuk secara masif ke setiap aspek kehidupan membuat guru hrus mampu memanfaatkan teknologi sebagai pembelajaran dan sekaligus memampukan peserta didik memiliki 4Cs atau “Communication, Critical Thinking, Creativity, Collaboration”. Selain itu, dengan semakin banyaknya umat manusia yang mendiami bumi, isu lingkungan hidup menjadi begitu penting. Para pendidik berperan penting dan berada di garda terdepan untuk menanamkan pemahaman dan sikap yang benar tentang ICT dan lingkungan hidup. Apa yang dikembangkan para pendidik saat ini dalam diri peserta didik akan berdampak besar 10 atau 20 tahun mendatang, ketika para peserta didik saat ini dewasa dan berperan di masyarakat”. Pak Dekan yang dikenal sebagai dosen yang konsisten memanfaatkan teknologi informasi dalam pembelajaran ini juga berharap agar poin-poin diskusi dalam seminar ini memberikan pencerahan bagi para peserta dalam praktik mendidik sehari-hari.

Plthn Gr Kimia 1Seminar yang berlangsung pada hari Kamis, 29 September 2016 di Ruang Seminar Gedung B Lt. 3, Kampus UKI Cawang itu diikuti oleh sekitar 120 guru dari berbagai SMA di Jakarta Timur dan Bekasi, termasuk didalamnya 77 Pendidik transformasi (PETRA) yang diorganisir oleh Lembaga Indonesia Cerdas untuk mengabdi minimal dua tahun di wilayah Indonesia Timur. Narasumber yang turut berbagi ide dan informasi dalam seminar itu, antara lain: Muhamad A. Martoprawiro, Ph.D., Dosen ITB yang memaparkan berbagai tantangan di bidang ICT, Dr. Tri Edhi Budi Soesilo yang membahas tantangan di bidang lingkungan hidup, dan Ronny Gunawan, M. A., M. Pd serta Dr. Erni Murniarti, M. Pd yang menyajikan topik pendidikan karakter dalam menghadapi perkembangan ICT dan lingkungan hidup.

Galakkan Debat untuk Raih “Seabrek” Manfaat

Sudah beberapa semester belakangan ini mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI semakin sering melakukan kegiatan debat dalam bahasa Inggris. Salah satu puncak aktivitas debat dilakukan pada hari Kamis 11 Agustus 2016. Di sebuah ruang kelas yang lumayan luas dua tim sedang melakukan perdebatan dihadapan tiga juri dan puluhan penonton. Di beberapa ruang kelas lainnya beberapa tim terlihat sedang menyusun strategi sambil menunggu tim mereka tampil di arena debat.

Debat 1Bapak Hendrikus Male, M.Hum., salah satu dosen yang biasa memangku mata kuliah Integrated English Skills, yang hadir di ruangan lokasi perdebatan, menjelaskan, “Debat adalah salah satu aktivitas yang digunakan dalam pembelajaran English Skills, khususnya Speaking! Karena sudah terbiasa digunakan di kelas, setelah mahasiswa di Semester III, sebagian besar dari mereka menjadikan debat sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Agar lebih terarah, kegiatan debat kemudian diorganisir oleh Pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris menjadi sebuah lomba tahunan. Yang sekarang berlangsung merupakan tahapan final antar kelompok-kelompok debat yang dibentuk para mahasiswa.”

Perdebatan yang sedang berlangsung terlihat seru. Kedua tim mengajukan berbagai argumen, fakta, bahkan hasil-hasil penelitian untuk memperkuat pernyataan masing-masing dan sekaligus mematahkan pernyataan tim lawan. Bapak Hendrikus Male, yang akrab dipanggil dengan nama “Pak Hendri” menambahkan bahwa yang digunakan di prodi ini adalah sistem debat Asian Parliamentary (AP). Dalam sistem ini terdapat dua tim yang berhadapan. Masing-masing tim terdiri dati tiga anggota. Tim pertama berperan sebagai pihak pemerintah (pro), yang bertugas mendefinisikan, mendukung dan mempertahankan mosi. Pihak yang lain berperan sebagai pihak oposisi (kontra).  Penilaian biasanya didasarkan pada 3 kriteria, yakni substansi (matter) debat dan bukti-bukti serta argument yang diberikan, sikap (manner, sebagaimana terlihat melalui gaya penyampaian pidato, keahlian persuasi, dan tindakan peserta) dan respon, yang mencakup espon yang dinamik dari debat dan kesesuaian dari prinsip-prinsip debat.

Debat 2Agnes, mahasiswa Semester 8, yang pada saat itu diminta menjadi salah satu juri, pada saat istirahat mengatakan, “Pada awalnya saya tidak menyukai aktivitas debat. Dulu saya menganggap berdebat berarti berlomba keras kepala dan mencari-cari kesalahan pihak lain. Setelah belajar dan mempraktikkan debat yang benar, saya mengalami sendiri betapa effektifnya debat sebagai aktivitas pembelajaran. Ketika berdebat, kita dituntut untuk menganalisis masalah yang diperdebatkan, mengupayakan argumen yang mendukung posisi kita (sebagai pihak pro atau kontra), lengkap dengan bukti-bukti pendukung, dan mesti mengkomunikasikannya secara persuasif untuk meyakinkan dewan juri maupun audiens.

Arnol, mahasiswa semester 4, mengatakan, “Kegiatan debat membuat Gue lebih pede. Dulu Gue paling takut disuruh ngomong di depan umum. Tapi setelah ikutan kegiatan debat dua semester, Gue kagak pernah lagi grogi mengungkapkan pendapat di depan banyak orang.”

Berbagai manfaat  aktivitas debat itu dikonfirmasi oleh Bapak Parlindungan Pardede, salah seorang dosen senior di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI, ketika dimintai tanggapannya tentang aktivitas debat.

“Saya sangat mendukung penyelenggaraan lomba debat seperti itu. Secara sadar atau tidak, debat membantu pengembangan berbagai keterampilan dan sikap dalam diri mahasiswa. Keterampilan berkomunikasi lisan maupun tulisan, kemahiran berpikir kritis, keterampilan mengorganisasikan ide dan mengungungkapkannya secara sistematis, dan meningkatkan kepercayaan diri berbicara di depan umum adalah sebagian dari manfaat aktivitas debat. Di suatu debat, mumngkin saja kita berada di pihak pro. Di perdebatan lain, bisa saja kita menjadi pihak kontra. Praktik memainkan peran berbeda-beda ini melatih kita memahami sesuatu dari sudut pandang yang berbeda-beda. Hal ini akan membantu pengembangan kreativitas. Yang tak kalah pentingnya, aktivitas debat meningkatkan kemampuan berkolaborasi atau teamwork,” Dosen yang biasa disapa Pak Parlin ini menjelaskan.

Mahasiswa PAK Belajar Siaran dan Pengelolaan Radio di RPK

Ditengah maraknya perkembangan industri televisi dan teknologi media sisial, radio ternyata masih tetap efektif sebagai media penyampaian informasi. Selain karena biaya akses yang relatif murah, radio mampu menjangkau banyak pendengar yang tersebar di berbagai tempat dengan kondisi geografis yang variatif. Tambahan lagi, radio sekarang sudah dihubungkan dengan internet menjasi siaran “streaming. Oleh sebab itu, radio tetap memiliki potensi besar, termasuk untuk digunakan sebagai media pembelajaran PAK.

RPK2Menyadari hal itu, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PAK yang telah membina kerjasama dengan Biro Pemuda dan Remaja PGI sepakat untuk bertandang bersama ke Stasiun Radio Pelita Kasih (RPK) 96.3 FM yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika, Jakarta timur. Tujuan kunjungan yang dilakukan pada Kamis, 11 Agustus 2016, ini adalah untuk mempelajari proses siaran dan berbagai pekerjaan serta posisi lainnya yang mendukung pengelolaan sebuah stasiun radio.

Selama berada di Stasiun RPK, secara berkelompok, mahasiswa diijinkan bergiliran memasuki, mengamati dan merasakan secara langsung suasana kerja penyiar, khususnya segmen radio kristiani. Mahasiswa juga diberi penjelasan tentang unit-unit pendukung dalam mengelola sebuah stasiun radio.

RPK1Terungkap bahwa keterampilan menulis dan berbicara wajib dikembangkan setiap orang yang ingin berkecimpung di dunia penyiaran radio. Mona, salah satu peserta rombongan mahasiswa menyatakan bahwa pengalaman selama beberapa jam di stasiun RPK itu benar-benar membuka wawasannya. “Dilihat dari kompetensi yang dibutuhkan, sangat mungkin bagi kami, mahasiswa PAK berkarir sebagai penyiar radio,” ujarnya seolah melihat alternatif profesi lain baginya tanpa menyianyiakan bidang PAK yang ditekuninya. “Pembelajaran PAK sangat mungkin dilakukan melalui media radio,” pungkasnya.

Rickson, mahasiswa lain, mengatakan, “Program-program HMPS PAK FKIP UKI memang keren! Bayangin  deh, dengan mengikuti kunjungan ini saya jadi tahu seluk beluk siaran dan mengelola stasiun radio. Selain itu, gue jadi nambah banyak temen dari Biro Pemuda dan Remaja PGI.”

Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Tempa Mahasiswa sebagai Produser Ilmu Pengetahuan, bukan Konsumer

[Jakarta, VoE FKIP UKI] “Pembelajaran tardisional, yang memperlakukan mahasiswa sebagai obyek penerima informasi dari dosen, sudah tidak relevan. Kehidupan di Abad-21, yang ditandai dengan perubahan-perubahan cepat sebagai akibat kemajuan teknologi, menuntut keterampilan berpikir kritis dan kreatif (agar dapat memecahkan masalah) serta kompeten berkomunikasi, beradaptasi dan  berkolaborasi. Yang dapat mengembangkan semua itu adalah pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student-centered learning/SCL),” Parlindungan Pardede, yang saat ini dipercaya sebagai Dekan FKIP UKI, memberi penjelasan tentang penyelenggaraan “Students’ Works Exhibition.”

“Diimplementasikan dengan metode pembelajaran berbasis penyelidikan, masalah, penemuan, pembelajaran dalam kelompok kecil, dan pembelajaran berbasis proyek, mahasiswa diarahkan tidak hanya sebagai konsumer yang sekedar menerima dan menghapal informasi. Di FKIP UKI, mahasiswa didorong menjadi produser. Mereka merekonstruksi pengetahuan baru dari informasi yang mereka cari dan temukan sesuai dengan topik perkuliahan. Pengetahuan baru itu kemudian direkonstruksi, lalu digunakan untuk membuat proyek-proyek. Produk-produk dari proyek itulah yang diterima sebagai salah satu bukti penguasaan pengetahuan dan keterampilan ,” imbuh Pak Dekan yang akrab dipanggil Pak Parlin ini.

Exhbtn 16-2

“Students’ Works Exhibition” yang berlangsung pada Selasa, 21 Juni 2016 di Aula, Lt. 3 Kampus Cawang UKI merupakan ajang “pameran” karya-karya mahasiswa yang dihasilkan dalam mengikuti perkuliahan selama setahun sebelumnya di Program Studi pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI. Bentuk karya yang dipamerkan sangat beragam, tergantung konten dan tujuan Mata Kuliah yang mendasari pembuatan karya itu.

Pengunjung pameran cukup ramai dan datang dari berbagai kalangan. Tiga orang mahasiswi yang berdiri di pintu depan aula untuk menyambut kedatangan tamu cukup sibuk. Sebagian dari tamu yang hadir adalah orang tua atau wali mahasiswa, siswa/siswi SMA berbagai SMA di Jakarta, dan mahasiswa serta dosen dari program studi- program studi lain di FKIP.

Exhbtn 16-3

“Sebagian karya yang dipamerkan adalah hasil kerja individu, sebagian lagi merupakan hasil kerja kelompok,” Susan, mahasiswa semester 4 yang bertugas menjaga stand angkatannya menjelaskan. “Poster yang menjelaskan teknik pembuatan slide powerpoint secara efektif ini, misalnya, adalah hasil karya individual. Sedangkan terjemahan kumpulan cerita pendek dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia ini adalah kompilasi dari hasil kerja 5 kelompok dalam Mata Kuliah Translation. Dalam kumpulan cerita ini terdapat 10 terjemahan cerita, setiap kelompok kerja menerjemahkan 2 cerita,” Susan memberi penjelasan dengan sangat baik.

Di stand Semester 6, berbagai buku, kumpulan puisi, tumpukan novel, dan kepingan VCD di tata dengan apik di atas sebuah meja besar. Di dinding pembatas stand juga dipajang beberapa poster dan sketsa bernuansa bahasa Inggris. “Semua produk yang ditampilkan adalah hasil karya mahasiswa selama mengikuti perkuliahan dalam dua semester terakhir,” kata Pak Hendrikus Male, M.Hum., salah satu dosen pembimbing dalam acara ini. “Semua mahasiswa berperan serta dan bergabung dengan kelompok angkatannya. Itu sebabnya terdapat 4 stand di exhibition ini, satu stand untuk satu angkatan,”lanjut Pak Male.

Dari hasil evaluasi, Students’ Works Exhibition ini memberi banyak dampak positif, khususnya di kalangan mahasiswa. Pengalaman mengikuti exhibition sebelumnya memotivasi para mahasiswa untuk lebih tekun di kelas-kelas perkuliahan dan sekaligis berupaya lebih kreatif agar hasil karya yang ditugaskan dalam perkuliahan dapat berkualitas baik, dan secara otomatis tampil menjadi karya yang bagus di  exhibition berikut. Untuk menghasilkan karya yang lebih baik membuat mahasiswa lebih giat belajar dan berkreasi. Mareka juga semakin intensif bekerjasama dengan sesama mahasiswa. Komunikasi dengan dosen, baik secara tatap muka maupun media komunikasi semakin intensif. “Oleh karena itu, Students’ Works Exhibition kita rencanakan untuk dilakukan rutin setiap tahun,” tandas Horas Hutabarat, M.Hum., yang saat ini dipercaya menjabat sebagai Kaprodi Program Studi pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI.

Exhb16-1

Merayakan Dies Natalis Pertama, Prodi Pendidikan Fisika Gelar “Physics Fun Week”

Jakarta, VoE FKIP UKI. Dalam rangka merayakan  Dies Natalis Pertama-nya, selama seminggu, Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UKI menyelenggarakan serangkaian kegiatan bernuansa Fisika. Selain diskusi antar sivitas akademika dan ibadah pengucapan syukur, dua kegiatan utama dari kegiatan berjudul Physics Fun Week itu adalah Lomba Cerdas Cermat Fisika Tingkat SMA Se-Jabodetabek dan Seminar Nasional bertajuk “Peran Sains dan Pendidikan Fisika dalam Menghadapi MEA”.

Fisika 1Seminar nasional yang diselenggarakan pada hari Rabu, 18 Mei 2016 di Ruang Seminar Lt.3, Kampus UKI, Cawang itu bertujuan membangkitkan minat anak bangsa untuk menggemari dan turut ambil bagian dalam perkembangan sains yang diperlukan untuk memajukan bangsa dan Negara. Topik-topik yang disajikan menguraikan sisi-sisi penting dan menarik dari fisika yang dibutuhkan untuk menyambut, mempersiapkan, dan mengembangkan potensi diri dalam menghadapi era kompetisi global, khususnya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Dihadapan audiens yang terdiri dari siswa dan guru-guru dari berbagai SMA di Jakarta, mahasiswa, dosen, serta peserta umum, Manogari Sianturi, S.Si., M.T., Kaprodi Pendidikan Fisika FKIP UKI dalam sambutannya menekankan pentingnya bangsa Indonesia meningkatkan daya saing untuk menghadapi MEA. Sehubungan dengan itu, walau usianya baru setahun, Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UKI berupaya memberi kontribusi dan dorongan semangat kepada bangsa Indonesia untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Sesi pertama seminar, yang dimoderatori oleh Samuel Gideon, M.Si. menampilkan dua narasumber. Manogari Sianturi, S.Si., M.T. menyajikan topik tentang Program Studi Pendidikan Fisika UKI dan Posisi Indonesia di dunia dan ASEAN.  Narasumber kedua, Dr. Isnaeni, M.Sc. dari Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyoroti topik Sains dan MEA. Dr. Isnaeni menekankan bahwa Indonesia masih terpuruk di bidang Matematika dan Sains. Akibatnya, Indonesia tidak dapat bersaing di bidang pengembangan teknologi hingga bangsa ini masih tergantung pada impor dan memiliki angka pengangguran yang tinggi.

Sesi kedua, yang menampilkan Dr. Ida Kaniawati (Universitas Pendidikan Indonesia Bandung) dan Dr. Muhammad Nur, DEA (Ahli Fisika Plasma) juga berlangsung sangat menarik.  Dr. Ida Kaniawati memaparkan materi tentang Peran Pendidikan Fisika dalam menghadapi MEA. Dr. Muhammad Nur, memberi pencerahan tentang “Berenterpreneur di era MEA”. Saking menariknya topik-topik yang disajikan, para peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan maupun memberi pendapat kepada para narasumber.

Fisika-2Seusai seminar, acara dilanjutkan dengan Final Lomba Cerdas Cermat. “Babak penyisihan dan semi final lomba itu sendiri sudah diselenggarakan sejak beberapa hari sebelumnya. Babak final sengaja dilakukan setelah seminar karena hari itu merupakan puncak perayaan Dies Natalis Pertama kami,” terang Pak Kaprodi, Manogari Sianturi.

Berdasarkan penilaian para juri, para pemenang Lomba Cerdas Cermat Fisika Tingkat SMA se-Jabodetabek tersebut adalah sebagai berikut. SMA 53 Jakarta meraih Juara 1; SMA ST. Bellarminus Jakarta, Juara 2; dan SMA PSKD 7 Depok, Juara 3. Selamat kepada para pemenang!

Untuk Kembangkan Keunggulan, Prodi Bimbingan & Konseling FKIP UKI Lakukan Studi Banding

[Bandung, VoE FKIP UKI] Pengalaman menunjukkan bahwa setiap organisasi yang unggul senantiasa melakukan studi banding agar mengetahui kelebihan kompetitor dan mengejarnya melalui aktivitas sehari-hari. Menyadari hal ini, pada hari Jumat, 19 Februari 2016, Prodi Bimbingan & Konseling FKIP UKI melakukan studi banding ke Universitas Pendidikan Indonesia. Universitas yang berlokasi di Bandung Utara ini sengaja dipilih karena reputasi dan pengalamannya. Berbagai hal positif dan kelebihan lainnya yang dimiliki institusi tersebut diharapkan dapat dijadikan pembanding.

UPI1“Pada dasarnya studi banding ini kami fokuskan untuk memperluas wawasan kami dalam hal pengembangan Laboratorium Bimbingan dan Konseling. Kami ingin melihat bagaimana laboratorium digunakan untuk mendukung proses pembelajaran dan penelitian,” cetus Ronny Gunawan, M.Pd., Kaprodi Bimbingan & Konseling FKIP UKI. “Namun, pada saat yang sama, kami juga mencoba mempelajari kurikulum yang diterapkan oleh Prodi Bimbingan & Konseling UPI2UPI,” imbuh Pak Ronny.

Dalam kunjungan studi banding yang berlangsung sejak pukul 09:00 hingga 15:00 itu, rombongan Prodi Bimbingan & Konseling FKIP UKI, yang terdiri dari 24 orang dosen tetap dan pengurus Himpunan Mahasiswa Program studi (HMPS), diterima oleh dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UPI. Setelah itu, rombongan diserahkan kepada Kepala Laboratorium BK UPI yang banyak memberikan penjelasan-penjelasan tentang pengelolaan dan instrumen yang dikembangkan di laboratorium tersebut oleh sivitas akademika BK UPI.

Seusai kegiatan studi banding, rombongan meninggal UPI dan bergerak ke Dusun Bambu Bandung, dengan tujuan melepas lelah dan sekaligus menjalin keakraban antara dosen dan mahasiswa. Melalui kegiatan keakraban itu terlihat kesatuan antara dosen dan mahasiswa yang tidak ada sekat dan jarak. Dengan pola hubungan seperti antar sahabat itu, tidak diragukan lagi proses pembelajaran di Prodi Bimbingan & Konseling FKIP UKI, yang diarahkan untuk mengembangkan mahasiswa sebagai pendidik unggul akan berlangsung kondusif dan efektif.

UPI3

“Saya sangat menikmati kunjungan studi banding ini. Wawasan nambah, keakraban dengan dosen dan teman-teman meningkat,” ujar salah satu peserta mahasiswa.