Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI Gelar Simposium Internasional

“It is not enough to simply teach children to read; we have to give them something worth reading. Something that will stretch their imaginations—something that will help them make sense of their own lives and encourage them to reach out toward people whose lives are quite different from their own.” (Katherine Patterson)

[Jakarta, VoE FKIP UKI] “Selamat datang di Kampus Kasih UKI. Kami sangat menghargai Bapak / Ibu / Saudara /i yang rela menempuh perjalanan dari daerah masing-masing untuk berbagi pengalaman dan ide dalam simposium ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada pimpinan fakultas dan program studi atas dukungan yang diberikan. Saya juga mengapresiasi kerja keras adik-adik mahasiswa yang terlibat sebagai panitia. Semoga simposium ini membekali kita dengan pengalaman baru untuk kita terapkan dalam tugas kita sebagai pendidik,” ujar Ibu Asri Purnamasari, M.Ed. in TESOL dalam sambutannya sebagai Ketua Panitia pada pembukaan 2018 Symposium on The Power of Extensive Reading.

ER1Simposium itu diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP-UKI pada hari Jumat, 6 Juni 2018 di Ruang video Conference, Kampus UKI Cawang, Jakarta Timur dengan bekerjasama dengan Extensive Reading Foundation (ERF) dan The Indonesian Extensive Reading Association (IERA). Simposium yang dihadiri oleh lebih dari 90 peserta dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan bahasa dari berbagai daerah di Indonesia itu menghadirkan 5 pembicara, yakni Dr. Rob Waring, Dr. Willy A. Renandya, Yusefa Iswandari, Parlindungan Pardede dan Saniago Dakhi.

Dalam paparannya, Willy A. Renandya menjelaskan bahwa ratusan, bahkan ribuan penelitian telah mengungkapkan Extensive Reading sangat efektif untuk meningkatkan penguasaan bahasa kedua atau bahasa asing. “Pakar-pakar ternama dalam pembelajaran Bahasa Inggris sangat menganjurkan implementasi Extensive Reading untuk membantu siswa,” imbuh, guru besar National Institute of Education, Nanyang Technological University Singapore yang juga merupakan salah seorang Direktur Eksekutif ERF ini.

ER4“Extensive Reading perlu diterapkan berdasarkan minat pembelajar sendiri. Itulah sebabnya bahan bacaan yang disediakan dalam program Extensive Reading harus menarik bagi siswa dan sesuai dengan tingkat kemahiran membaca yang mereka miliki. Dengan demikian, aktivitas membaca akan memberikan impak emosional yang pada gilirannya membentuk hasrat membaca dalam diri siswa. Jika dorongan itu sudah terbentuk, siswa akan membaca banyak teks dan secara otomatis  mengembangkan kemampuan berbahasanya,” papar Dr. Rob Waring, guru besar Notre Dame Seishin University Japan yang juga merupakan Direktur Eksekutif ERF.

Yuseva Iswandari, dosen di Universitas Sanata Darma Yogyakarta, yang saat ini dipercaya menjabat Presiden IERA memaparkan berbagai program dan aktivitas yang diselenggarakan oleh asosiasi yang dipimpinnya. Beliau juga menghimbau agar para pendidik yang hadir mulai berupaya melaksanakan program Extensive Reading di institusi masing-masing.

Dalam sesi presentasinya, Parlindungan Pardede, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI,  memaparkan beberapa tantangan yang sering timbul dalam implementasi Extensive Reading dan sekaligus menawarkan satu alternatif untuk sebagai jawaban. “Menyediakan buku dalam jenis dan tingkat kesulitan yang bervariasi serta dalam jumlah yang banyak pasti membutuhkan biaya yang besar. Memantau setiap siswa untuk mengetahui bahwa dia benar-benar melakukan kegiatan membaca serta memberi bantuan bagi siswa yang menemukan kesulitan juga tidak mudah dilakukan. Kita beruntung bahwa teknologi informasi dan komunikasi sangat mungkin kita gunakan untuk menjawab tantangan-tantangan itu. Oleh karena itu, kita perlu berkreasi untuk menerapkan Online Extensive Reading.”

Saniago Dakhi, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI, yang mengisi sesi terakhir memaparkan hasil analisisnya terhadap konten artikel-artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah nasional bidang pengajaran Bahasa Inggris. Dari ratusan artikel yang dipublikasikan dalam enam jurnal terakreditasi yang terbit selama 5 tahun terakhir, terdapat hanya 9 (2,12%) artikel yang membahas “reading”, dan tak satupun dari artikel itu yang menyoroti Extensive Reading. Temuan ini menunjukkan betapa kurangnya perhatian terhadap pengembangan kemahiran membaca, khususnya ‘Extensive Reading’,” tandas Pak Saniago.

Dari berbagai respon peserta, terungkap semangat untuk mengupayakan implementasi ‘Extensive Reading’ di institusi atau kelas masing-masing. Semoga semangat itu terus membara untuk menumbuhkembangkan minat besar generasi muda Indonesia untuk membaca.

ER2