Teknologi sebagai Alternatif untuk Menjawab Tantangan Penerapan “Extensive Reading”

“Books are no more threatened by Kindle than stairs by elevators.” (Stephen Fry)

[Jakarta, VoE FKIP UKI] Berbagai hasil penelitian dan pengalaman membuktikan bahwa Extensive Reading yang diimplementasikan dengan baik sangat efektif untuk mendukung keberhasilan pembelajaran Bahasa kedua atau Bahasa asing. Selain memperkaya kosa kata, meningkatkan kecepatan serta pemahaman membaca dan mengembangkan kemahiran menulis, Extensive Reading juga membangun sikap positif, kepercayaan diri dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu, Extensive Reading sangat baik dan perlu diimplementasikan.

ER-PP2Paparan itu diungkapkan oleh Parlindungan Pardede ketika memulai presentasinya dalam Simposium bertajuk “The Power of Extensive Reading” yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP-UKI pada hari Jumat, 6 Juni 2018 di Ruang video Conference, Kampus UKI Cawang, Jakarta Timur. dengan menghadirkan Dr. Rob Waring (salah seorang Direktur Eksekutif ERF), Dr. Willy A. Renandya (juga salah seorang Direktur Eksekutif ERF) dan Yusefa Iswandari (Presiden IERA) sebagai narasumber tamu.

Parlindungan Pardede, yang saat ini dipercaya sebagai Dekan FKIP-UKI memaparkan bahwa tiap  siswa harus membaca buku, artikel, atau bahan lainnya sebanyak 200,000 kata atau lebih dalam setahun agar untuk memperoleh  manfaat yang ditawarkan Extensive Reading. Teks sebanyak itu tidak mencakup buku-buku teks yang diwajibkan dalam pembelajaran atau perkuliahan, karena Extensive Reading dilakukan di luar kelas.

“Diperlukan berbagai tipe dan tingkat kesulitan bacaan untu memfasilitasi Extensive Reading  sebuah kelas yang mungkin terdiri dari 25 hingga 30 siswa. Karena membutuhkan biaya yang besar, hal ini seringkali menjadi kendala, Selain itu, untuk memastikan bahwa semua siswa benar-benar membaca dan membantu mereka yang menemukan kesulitan membaca bukanlah tugas yang mudah bagi guru,  karena Extensive Reading dilakukan di luar jam pembelajaran di kelas. Yang tak kalah penting adalah kenyataan bahwa siswa saat ini tidak hanya membaca teks cetak tetapi juga teks dijital. Oleh karena itu, Online Extensive Reading (OER) atau Extensive Reading berbasis teknologi informasi dan komunikasi perlu dimanfaatkan sebagai alternatif,” papar Pak Dekan yang akrab dipanggil pak Parlin ini.

“Terdapat dua pilihan yang bisa kita ambil untuk menyelenggarakan OER. Pertama, kita bisa menggunakan perpustakaan virtual yang menyediakan bahan bacaan bertingkat (graded reading) dan sistem manajemen pembelajaran atau Learning Management System (LMS) seperti Xreading. Setelah mendaftar dan membayar sebagai pengguna perpustakaan virtual itu, melalui komputer, laptop atau hand phone, setiap siswa memiliki akses untuk membaca dan mengerjakan kuis atau menuliskan respon. Kedua, kita dapat membuat perpustakaan virtual sendiri dengan cara mengumpulan link-link bahan bacaan dalam sebuah web yang kita miliki untuk diakses oleh siswa kita. Lalu pada halaman lain kita bisa menyiapkan tempat bagi siswa untuk mengerjakan kuis atau menuliskan respon, seperti yang dilakukan oleh Pino-Silva,” imbuh Pak Parlin.

Sesi presentasinya diakhiri oleh Pak Parlin dengan memaparkan beberapa hasil penelitian yang relevan dengan pemanfaatan perpustakaan virtual untuk  Extensive Reading, baik perpustakaan virtual berbayar yang telah tersedia di internet maupun yang dibuat sendiri oleh guru.

“Yang jelas, kita harus selalu berupaya menggunakan kreativitas dan bantuan teknologi untuk mengatasi kendala-kendala yang muncul dalam setiap pembelajaran bagi generasi muda yang kita didik”, tegas Pak Parlin mengakhiri presentasinya.

ER-PP1

File presentasi Pak Parlin bisa didownload dari:

https://parlindunganpardede.wordpress.com/2018/07/02/online-extensive-reading/

HMPS Pendidikan Bahasa Inggris Jaring Bakat Lewat “Got Talent”

EGT-3[Jakarta, VoE FKIP UKI] Siapa yang tidak tahu program Got Talent, pertunjukan televisi dalam hal penjaringan bakat yang pertama kali diluncurkan di Inggris dan  hak ciptanya dimiliki oleh SYCOtv company milik Simon Cowell? Saking populernya program itu, hingga sekarang sudah sekitar 60 negara menyelenggarakannya. Di Indonesia, program itu diadopsi menjadi Indonesia Mencari Bakat (IMB). Format Got Talent memang sangat menarik untuk dijadikan ajang pencarian bakat, bukan hanya di bidang seni suara, music, tari, tapi juga berbagai bidang lainnya.

Mengadopsi program Got Talent, pada tanggal 3 November 2017’ Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI menggelar ajang pencarian bakat di kalangan mahasiswa. Acara yang berlangsung  di Ruang Seminar UKI Kampus Cawang itu berlangsung tak kalah seru dengan IMB atau American Got Talent.

EGT-2Dalam acara itu, tampil puluhan peserta yang memperagakan kebolehan mereka, baik secara perorangan maupun kelompok. Sebagian menampilkan suara-suara merdu lewat lagu, sebagian lagi melalui tarian, kemahiran memainkan alat musik, sulap, musikalisasi puisi, drama musikal hingga story-telling dan komedi (stand up). Komentar-komentar para juri yang ditugaskan juga tak kalah dengan para juri di program televisi professional. Para supporter juga tak kalah gokill dengan supporter di TV. Begitu penampilan teman atau jagoan masing-masing selesai, tepuk tangan dan yel-yel membahana memenuhi ruangan.

“Tujuan kegiatan ini adalah agar mahasiswa dapat mengembangkan serta menggali lebih jauh potensi, minat, dan bakat yang dimiliki di luar bidang akademik,” ucap Grace, Ketua Pantia’ dalam sambutan pembukaan. “Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat memberi hiburan kepada semua sivitas akademika di sela-sela kesibukan masing-masing, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai Dosen,” imbuh Grace.

EGT-5Unsur hiburan tersebut sangat terasa dengan adanya penampilan beberapa dosen menunjukkan kebolehan mereka. Meski hanya sebagai “bintang tamu”, gaya mereka juga cool abisss!. Games dan penarikan nomor undian doorprize yang dilakukan secara begitu menarik benar-benar membuat acara ini meriah.

Yohana Dithalia, salah satu peserta yang menampilkan bakat story-telling dengan luar biasa epic mengungkapkan rasa bahagianya karena dirinya telah berhasil meraih juara pertama. Ia pun menuai banyak pujian dari teman-teman nya hingga para juri yang menilai penampilannya.  Ia tidak menyangka bahwa ia akan meraih hasil terbaik itu karena selama latihan banyak sekali kendala yang dihadapi, walau ini bukan penampilan pertamanya dalam story-telling. Namun, dengan latihan yang cukup keras, ia pun sukses meraih harapannya dengan memberikan tampilan yang totalitas.

Salah seorang Pembina HMPS, Bapak Henrikus Male mengatakan, “kegiatan semacam ini baik dilakukan sebagai cara menemukan bakat-bakat mahasiswa untuk kemudian dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Selain untuk mengembangkan bakat, kegiatan ini dapat memupuk rasa percaya diri mahasiswa. Tim Panitia pun, secara langsung telah mengasah kemampuan manajemen mereka sewaktu mempersiapkan acara ini dari awal sampai akhir.”

EGT-4

Prodi Kimia FKIP UKI Gelar Kuliah Umum Pengembangan Kreativitas dan Inovasi

Kimia, seminar2[Jakarta, VoE FKIP UKI] “Hanya dengan pengetahuan saja, sebanyak apapun itu, tidak dapat mendukung kemajuan seseorang di Abad-21. Kreativitas dan inovasi merupakan kunci keberhasilan di era teknologi saat ini.  Sehubungan dengan itu, Program Studi Pendidikan Kimia FKIP UKI secara terrencana terus memfasilitasi mahasiswa mengembangkan kreativitas masing-masing. Kuliah umum ini adalah salah satu upaya untuk mendorong mahasiswa menjadi insan yang kreatif dan inovatif,” ujar Dr Sumiyati, M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP UKI ketika membuka Kuliah Umum bertema “Kreativitas Mahasiswa” yang dilangsungkan selama dua, pada tanggal 6 dan 10 Juli 2017 di ruang video conference lantai 2, Gedung AB, Kampus UKI Cawang.

Di hari pertama Sabar Pangihutan Simanungkalit, M.T., peneliti muda bidang Teknologi Bionergi di Pusat Penelitian Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kawasan Puspitek, Serpong tampil sebagai narasumber. Alumni Fakultas Teknik UKI ini memaparkan materi tentang “Peningkatan Iklim Akademik Melalui Penelitian dalam Rangka Peningkatan Kualitas Mahasiswa”. Beliau mengawali paparannya dengan bertanya kepada peserta yang hadir, “Penelitian dan kreativitas, apa hubungannya?”

Beberapa peserta berupaya menjawab. Pak Sabar kemudian menyimpulkan beragam jawaban, “Hubungan penelitian dan kreativitas sangat dekat. Penelitian harus dilakukan secara kreatif, dan kreativitas bisa dikembangkan dengan meneliti. Caranya? Cintai apa yg kalian kerjakan sekarang. Kalian tidak akan kreatif kalau kalian tidak mencintai tugas dan kewajiban kalian,” jelas Pak Sabar.

Beliau juga berharap melalui pertemuan seperti ini, UKI dan LIPI bisa bekerja sama di hari-hari mendatang. “Salah satu bentuknya adalah LIPI membuka kesempatan magang bagi para mahasiswa UKI untuk melakukan penelitian,” cetus beliau.

Sesi pada hari kedua tak kalah menarik. Drs. Mudjiarto, M.Sc, narasumber yang dihadirkan, adalah Reviewer Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PMK-K) di Kopertis Wilayah III. Sebelum Pak Mudjiarto menyajikan materinya, dalam sesi pembukaan, Ibu Nova Irawati Simatupang, M.Pd., mewakili Kaprodi Pendidikan Kimia, menyampaikan harapannya agar para mahasiswa bisa lebih bersemangat dan dapat belajar sebanyak-banyaknya dari narasumber.

“Kami sangat berharap kehadiran Bapak bisa memberikan semangat baru, khususnya bagi mahasiswa Prodi Kimia untuk turut serta berkompetisi dalam PKM-K. Jika mahasiswa sudah menekuni PKM-K, kebiasaan nongkrong-nongkrong di kantin akan ditinggalkan. Untuk adik-adik mahasiswa, manfaatkan dan galilah informasi sebanyak-banyknya,” tutur Bu Nova.

Melalui materi berjudul “Pengembangan Program Kreativitas Mahasiswa Menuju Program Studi Unggulan”, Pak Mudjiarto menjelaskan bahwa saat  ini PKM sangat penting bagi mahasiswa, masyarakat, dan Perguruan Tinggi. Program ini merupakan bagian langsung dari Tridarma Perguruan Tinggi. Pemerintah melalui KOPERTIS menyediakan dana berupa Hibah untuk kompetisi bisnis mahasiswa.

“Konsep dasar PKM adalah kreativitas dan inovasi, meningkatkan kerja sama tim, dan menumbuhkan sikap positif. Untuk memperoleh kesempatan seperti ini, coba adik-adik ajukan proposal,” ucap Pak Mudjiarto.

Beliau juga mengingatkan bahwa kualitas kegiatan mahasiswa merupakan salah satu indikator penilaian rangking perguruan tinggi, selain kualitas SDM dan kualitas penelitian. Oleh karena itu, kegiatan mahasiswa sangat penting. Selanjutnya, Pak Mudjiarto memaparkan langkah-langkah penyiapan hingga penyusunan proposal sesuai standar yang ditetapkan oleh Kopertis Wilayah III. Dengan menerapkan langkah-langkah itu, para mahasiswa diharapkan dapat mengajukan proposal yang berkualitas.

 

kuliah-umum.jpg

Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Tempa Mahasiswa sebagai Produser Ilmu Pengetahuan, bukan Konsumer

[Jakarta, VoE FKIP UKI] “Pembelajaran tardisional, yang memperlakukan mahasiswa sebagai obyek penerima informasi dari dosen, sudah tidak relevan. Kehidupan di Abad-21, yang ditandai dengan perubahan-perubahan cepat sebagai akibat kemajuan teknologi, menuntut keterampilan berpikir kritis dan kreatif (agar dapat memecahkan masalah) serta kompeten berkomunikasi, beradaptasi dan  berkolaborasi. Yang dapat mengembangkan semua itu adalah pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student-centered learning/SCL),” Parlindungan Pardede, yang saat ini dipercaya sebagai Dekan FKIP UKI, memberi penjelasan tentang penyelenggaraan “Students’ Works Exhibition.”

“Diimplementasikan dengan metode pembelajaran berbasis penyelidikan, masalah, penemuan, pembelajaran dalam kelompok kecil, dan pembelajaran berbasis proyek, mahasiswa diarahkan tidak hanya sebagai konsumer yang sekedar menerima dan menghapal informasi. Di FKIP UKI, mahasiswa didorong menjadi produser. Mereka merekonstruksi pengetahuan baru dari informasi yang mereka cari dan temukan sesuai dengan topik perkuliahan. Pengetahuan baru itu kemudian direkonstruksi, lalu digunakan untuk membuat proyek-proyek. Produk-produk dari proyek itulah yang diterima sebagai salah satu bukti penguasaan pengetahuan dan keterampilan ,” imbuh Pak Dekan yang akrab dipanggil Pak Parlin ini.

Exhbtn 16-2

“Students’ Works Exhibition” yang berlangsung pada Selasa, 21 Juni 2016 di Aula, Lt. 3 Kampus Cawang UKI merupakan ajang “pameran” karya-karya mahasiswa yang dihasilkan dalam mengikuti perkuliahan selama setahun sebelumnya di Program Studi pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI. Bentuk karya yang dipamerkan sangat beragam, tergantung konten dan tujuan Mata Kuliah yang mendasari pembuatan karya itu.

Pengunjung pameran cukup ramai dan datang dari berbagai kalangan. Tiga orang mahasiswi yang berdiri di pintu depan aula untuk menyambut kedatangan tamu cukup sibuk. Sebagian dari tamu yang hadir adalah orang tua atau wali mahasiswa, siswa/siswi SMA berbagai SMA di Jakarta, dan mahasiswa serta dosen dari program studi- program studi lain di FKIP.

Exhbtn 16-3

“Sebagian karya yang dipamerkan adalah hasil kerja individu, sebagian lagi merupakan hasil kerja kelompok,” Susan, mahasiswa semester 4 yang bertugas menjaga stand angkatannya menjelaskan. “Poster yang menjelaskan teknik pembuatan slide powerpoint secara efektif ini, misalnya, adalah hasil karya individual. Sedangkan terjemahan kumpulan cerita pendek dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia ini adalah kompilasi dari hasil kerja 5 kelompok dalam Mata Kuliah Translation. Dalam kumpulan cerita ini terdapat 10 terjemahan cerita, setiap kelompok kerja menerjemahkan 2 cerita,” Susan memberi penjelasan dengan sangat baik.

Di stand Semester 6, berbagai buku, kumpulan puisi, tumpukan novel, dan kepingan VCD di tata dengan apik di atas sebuah meja besar. Di dinding pembatas stand juga dipajang beberapa poster dan sketsa bernuansa bahasa Inggris. “Semua produk yang ditampilkan adalah hasil karya mahasiswa selama mengikuti perkuliahan dalam dua semester terakhir,” kata Pak Hendrikus Male, M.Hum., salah satu dosen pembimbing dalam acara ini. “Semua mahasiswa berperan serta dan bergabung dengan kelompok angkatannya. Itu sebabnya terdapat 4 stand di exhibition ini, satu stand untuk satu angkatan,”lanjut Pak Male.

Dari hasil evaluasi, Students’ Works Exhibition ini memberi banyak dampak positif, khususnya di kalangan mahasiswa. Pengalaman mengikuti exhibition sebelumnya memotivasi para mahasiswa untuk lebih tekun di kelas-kelas perkuliahan dan sekaligis berupaya lebih kreatif agar hasil karya yang ditugaskan dalam perkuliahan dapat berkualitas baik, dan secara otomatis tampil menjadi karya yang bagus di  exhibition berikut. Untuk menghasilkan karya yang lebih baik membuat mahasiswa lebih giat belajar dan berkreasi. Mareka juga semakin intensif bekerjasama dengan sesama mahasiswa. Komunikasi dengan dosen, baik secara tatap muka maupun media komunikasi semakin intensif. “Oleh karena itu, Students’ Works Exhibition kita rencanakan untuk dilakukan rutin setiap tahun,” tandas Horas Hutabarat, M.Hum., yang saat ini dipercaya menjabat sebagai Kaprodi Program Studi pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI.

Exhb16-1