Teknologi sebagai Alternatif untuk Menjawab Tantangan Penerapan “Extensive Reading”

“Books are no more threatened by Kindle than stairs by elevators.” (Stephen Fry)

[Jakarta, VoE FKIP UKI] Berbagai hasil penelitian dan pengalaman membuktikan bahwa Extensive Reading yang diimplementasikan dengan baik sangat efektif untuk mendukung keberhasilan pembelajaran Bahasa kedua atau Bahasa asing. Selain memperkaya kosa kata, meningkatkan kecepatan serta pemahaman membaca dan mengembangkan kemahiran menulis, Extensive Reading juga membangun sikap positif, kepercayaan diri dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu, Extensive Reading sangat baik dan perlu diimplementasikan.

ER-PP2Paparan itu diungkapkan oleh Parlindungan Pardede ketika memulai presentasinya dalam Simposium bertajuk “The Power of Extensive Reading” yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP-UKI pada hari Jumat, 6 Juni 2018 di Ruang video Conference, Kampus UKI Cawang, Jakarta Timur. dengan menghadirkan Dr. Rob Waring (salah seorang Direktur Eksekutif ERF), Dr. Willy A. Renandya (juga salah seorang Direktur Eksekutif ERF) dan Yusefa Iswandari (Presiden IERA) sebagai narasumber tamu.

Parlindungan Pardede, yang saat ini dipercaya sebagai Dekan FKIP-UKI memaparkan bahwa tiap  siswa harus membaca buku, artikel, atau bahan lainnya sebanyak 200,000 kata atau lebih dalam setahun agar untuk memperoleh  manfaat yang ditawarkan Extensive Reading. Teks sebanyak itu tidak mencakup buku-buku teks yang diwajibkan dalam pembelajaran atau perkuliahan, karena Extensive Reading dilakukan di luar kelas.

“Diperlukan berbagai tipe dan tingkat kesulitan bacaan untu memfasilitasi Extensive Reading  sebuah kelas yang mungkin terdiri dari 25 hingga 30 siswa. Karena membutuhkan biaya yang besar, hal ini seringkali menjadi kendala, Selain itu, untuk memastikan bahwa semua siswa benar-benar membaca dan membantu mereka yang menemukan kesulitan membaca bukanlah tugas yang mudah bagi guru,  karena Extensive Reading dilakukan di luar jam pembelajaran di kelas. Yang tak kalah penting adalah kenyataan bahwa siswa saat ini tidak hanya membaca teks cetak tetapi juga teks dijital. Oleh karena itu, Online Extensive Reading (OER) atau Extensive Reading berbasis teknologi informasi dan komunikasi perlu dimanfaatkan sebagai alternatif,” papar Pak Dekan yang akrab dipanggil pak Parlin ini.

“Terdapat dua pilihan yang bisa kita ambil untuk menyelenggarakan OER. Pertama, kita bisa menggunakan perpustakaan virtual yang menyediakan bahan bacaan bertingkat (graded reading) dan sistem manajemen pembelajaran atau Learning Management System (LMS) seperti Xreading. Setelah mendaftar dan membayar sebagai pengguna perpustakaan virtual itu, melalui komputer, laptop atau hand phone, setiap siswa memiliki akses untuk membaca dan mengerjakan kuis atau menuliskan respon. Kedua, kita dapat membuat perpustakaan virtual sendiri dengan cara mengumpulan link-link bahan bacaan dalam sebuah web yang kita miliki untuk diakses oleh siswa kita. Lalu pada halaman lain kita bisa menyiapkan tempat bagi siswa untuk mengerjakan kuis atau menuliskan respon, seperti yang dilakukan oleh Pino-Silva,” imbuh Pak Parlin.

Sesi presentasinya diakhiri oleh Pak Parlin dengan memaparkan beberapa hasil penelitian yang relevan dengan pemanfaatan perpustakaan virtual untuk  Extensive Reading, baik perpustakaan virtual berbayar yang telah tersedia di internet maupun yang dibuat sendiri oleh guru.

“Yang jelas, kita harus selalu berupaya menggunakan kreativitas dan bantuan teknologi untuk mengatasi kendala-kendala yang muncul dalam setiap pembelajaran bagi generasi muda yang kita didik”, tegas Pak Parlin mengakhiri presentasinya.

ER-PP1

File presentasi Pak Parlin bisa didownload dari:

https://parlindunganpardede.wordpress.com/2018/07/02/online-extensive-reading/

Online Learning: Untuk Gagah-Gagahan, atau Karena Kebutuhan?

“Selain ranah kognitif, pembelajaran online juga membuat ranah afektif dan psikomotorik mahasiswa berkembang. Mereka tidak hanya mengetahui konsep, tetapi juga mengembangkan semua tingkat keterampilan berpikir, keterampilan berkolaborasi, dan kemampuan berinovasi (berkreasi).”

PP

[Jakarta, VoE of FKIP UKI] Laporan ini adalah bagian kedua dari hasil wawancara Redaksi VoE dengan Bapak Parlindungan Pardede, Dekan FKIP UKI, yang dilakukan dalam rangka menyambut Peringatan Hari  Pendidikan Nasional, 2 Mei 2018. Bagian pertama wawancara pada 30 April 2018 itu, yang berfokus pada peran teknologi di dunia pendidikan di Abad-21, telah kami publikasikan dengan judul Teknologi akan Rampas Profesi Guru dan Dosen? Bagian kedua ini berfokus pada hakikat dan manfaat penggunaan teknologi dalam pembelajaran, yang lebih dikenal dengan pembelajaran Online Learning.

Redaksi VoE FKIP UKI (VoE): Pengertian Online Learning (OL) masih belum jelas bagi banyak kalangan. Mohon pencerahan, Pak.

Parlindungan Pardede (PP): Online Learning (OL) pada dasarnya merupakan pembelajaran yang peralatan, materi dan prosesnya berbasis jaringan internet. Dalam OL, materi, rencana aktivitas, dan evaluasi pembelajaran disiapkan oleh guru/dosen dan diakses serta dikerjakan oleh siswa/mahasiswa melalui internet. Interaksi dan diskusi (antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa lain), juga berlangsung melalui intenet.

VoE: Pada saat ini juga bermunculan istilah e-learning, web-based learning, blended learning, hybrid learning, distance learning, dan MOOCs. Apakah semua istilah itu mengacu pada hal yang sama atau berbeda?

PP: Terminologi e-learning pada awalnya mengacu pada pembelajaran berbasis komputer. Materi dan proses pembelajaran dimasukkan dan diakses melalui CD-ROM. Tapi sekarang e-learning telah menggunakan internet sebagai basis. Jadi, e-learning pada hakikatnya identik dengan OL.

OL2Dilihat dari kata-kata pembentuknya, web-based learning (WBL) mengacu pada pembelajaran berbasis jaringan internet. Jadi, WBL sama saja dengan OL atau e-learning.

Blended learning dan hybrid learning mengacu pada pendekatan pembelajaran yang sama, yakni yang memadukan pembelajaran konvensional (tatap muka) dengan pembelajaran onlineBlended learning atau hybrid learning dilakukan dengan cara merancang sesi perkuliahan tertentu secara online dan sesi lainnya secara tatap muka.

MOOCs (Massive Open Online Courses) yang dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai MPDTM (Materi Pembelajaran Daring Terbuka dan Masif) mengacu pada pembelajaran online gratis namun tanpa diberi bobot kredit yang bisa diikuti oleh siapa saja dan tanpa persyaratan apapun. Berbagai universitas, misalnya memfasilitasi MOOCs bentuk video, artikel, slide power-poin, dan modul tentang topik tertentu. Karena dipublikasikan secara online dan terbuka, materi-materi itu dapat diakses oleh siapa saja dan kapan saja. Sebagian materi itu ada yang berbentuk pembelajaran singkat (kursus) yang pada awalnya gratis. Namun karena tingginya animo masyarakat untuk memperoleh sertifikat setelah menyelesaikan kursus tertentu, berbagai institusi saat ini menawarkan pembelajaran dengan biaya tertentu.

Distance learning, dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai “Pembelajaran Jarak Jauh” (PJJ), mengacu pada pembelajaran yang dilakukan oleh siswa/mahasiswa secara mandiri tanpa interaksi dengan guru/dosen maupun dengan sesama siswa/mahasiswa. Pada awalnya, materi, aktivitas, dan evaluasi pembelajaran distance learning dipaketkan dalam teks (modul) dan rekaman audio atau video. Tapi sekarang penyampaian materi dan interaksi dilakukan juga melalui webinars, teleconferences, maupun email. Jadi, distance learning juga menerapkan prinsip OL. Perlu ditekankan bahwa Pemerintah kita sekarang sedang menggalakkan program distance learning atau PJJ) yang menerapkan prinsip OL. Program itu dikenal dengan istilah SPADA (Sistem Pembelajaran Dalam Jaringan).

VoE: Bapak mengatakan Pemerintah kita sudah mendorong program berbasis OL, yang disebut SPADA (Sistem Pembelajaran Dalam Jaringan). Mohon penjelasan lebih lanjut, Pak.

PP: Sebagai negara kepulauan faktor geografis menjadi kendala tersendiri bagi banyak warga negara kita untuk memperoleh pendidikan tinggi berkualitas. Oleh karena itu, melalui Kemenristek Dikti, Pemerintah RI memutuskan untuk meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi melalui penerapan SPADA. Dengan demikian, mahasiswa yang tinggal di Papua, misalnya, tidak perlu datang ke Yogyakarta untuk mengikuti perkuliahan yang diselenggarakan kampus di Yogyakarta. Mereka cukup mengikuti perkuliahan dalam jaringan. Jika APK pendidikan tinggi dengan model pembelajaran konvensional hanya meningkat 0,5% setiap tahun, dengan menerapkan SPADA diharapkan APK meningkat menjadi 2% per tahun.

VoE: Ternyata penerapan OL itu membuka kesempatan luar biasa bagi masyarakat untuk memperoleh pembelajaran, ya, Pak. Tapi, selain pemberian akses yang sangat luas kepada masyarakat, apakah OL menawarkan manfaat lain?

PP: OL bisa diselenggarakan secara synchronous atau asynchronous. Jika dilakukan secara synchronous, mahasiswa dan dosen berinteraksi melalui internet pada waktu yang bersamaan. Kegiatan pembelajaran bisa berupa teleconference maupun interaksi melalui skype. Sedangkan dalam pembelajaran asynchronous interaksi berlangsung dalam waktu yang berbeda. Biasanya dosen mengupload rekaman video, modul, tugas, kasus, atau tes yang dapat diakses mahasiswa untuk dipelajari atau dikerjakan kapanpun, asalkan tidak melewati tenggat waktu yang ditentukan. Dengan demikian OL sangat sesuai bagi mahasiswa yang memerlukan waktu belajar yang fleksibel. Mahasiswa yang bekerja di pagi hingga sore hari, misalnya, dapat melakukan perkuliahan di malam hari.

VoE: Selain fleksibilitas waktu, apakah masih ada manfaat lain yang bisa diperoleh dari OL?

PP: Penerapan OL memungkinkan bagi guru/dosen menghemat waktu. Anda tentu tahu tugas mengajar itu melibatkan banyak pekerjaan. Memutakhirkan materi pembelajaran, menyiapkan media yang sesuai, memeriksa kertas kerja, membuat penilaian, mendokumentasikan kemajuan siswa/mahasiswa, memberikan pelayanan khusus kepada siswa/mahasiswa tertentu dan banyak lagi. Fasilitas teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan dalam OL dapat digunakan untuk membantu, bahkan menggantikan pelaksanaan sebagian dari tugas-tugas itu. Sebagai contoh, karena tersedia dalam bentuk soft copy, modul pembelajaran dapat direvisi dengan mudah sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, soal-soal quiz dapat didisain agar pemberian skornya dilakukan secara otomatis oleh teknologi dan hasilnya terdokumentasi dalam bentuk daftar skor. Contoh lain, melalui fasilitas Google Share, dosen bisa langsung memberi masukan (feedbacks) terhadap tugas-tugas tertulis mahasiswa yang dibuat dalam format Google Docs.

VoE: Jadi, OL tidak hanya meningkatkan kesempatan bagi masyarakat dan memberikan waktu kuliah yang fleksibel, tapi juga memudahkan pekerjaan dan menghemat waktu guru/dosen?

PP: Sebenarnya masih ada ada berbagai manfaat lain. Misalnya, implementasi OL secara otomatis mengembangkan keterampilan siswa/mahasiswa menggunakan sarana teknologi yang akan menjadi gaya hidup di Abad 21 ini. Satu lagi manfaat yang paling penting adalah fakta bahwa sarana OL memberi kesempatan untuk meningkatkan keterlibatan siswa/mahasiswa dalam pembelajaran.

VoE: Wah…, jika OL bisa digunakan untuk meningkatkan keterlibatan siswa/mahasiswa, itu sangat luar biasa! Yang kami dengar, salah satu kendala utama dalam pembelajaran adalah minimnya partisipasi siswa/mahasiswa. Penyebabnya, siswa/mahasiswa merasa tidak tertarik atau bosan. Bapak bisa menjelaskan lebih rinci, bagaimana OL bisa digunakan untuk meningkatkan keterlibatan siswa/mahasiswa?

PP: Meningkatkan keterlibatan siswa/mahasiswa melalui OL dapat digambarkan dengan mudah dalam praktik Blended Learning (BL) yang dihubungkan dengan implementasi konsep taksonomi Bloom.

Menurut konsep Bloom, setiap proses pembelajaran merupakan aktivitas memproses informasi dengan menggunakan enam tingkat keterampilan berpikir, mulai dari level terrendah (paling mudah) hingga tertinggi (paling sulit), yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi.

Bloom's Tax“Mengingat” dan “memahami” merupakan keterampilan berpikir paling mudah. Dalam BL, mahasiswa difasilitasi untuk melakukannya secara mandiri. Sebagai contoh, dalam perkuliahan awal “Menulis Esei”, melalui kelas OL yang digunakan, dosen mengupload modul “Pengenalan Terhadap Esei”. Modul ini dapat dilengkapi dengan slide powerpoint atau video yang membantu mahasiswa menguasai (mengingat) materi tersebut secara mandiri melalui sesi perkuliahan online. Jangan lupa, internet menyediakan banyak sekali materi tentang “Pengenalan Terhadap Esei” yang dapat diakses mahasiswa untuk memperluas memperdalam pengetahuannya.

Masih secara online, mahasiswa kemudian diminta mengerjakan quiz atau latihan tertentu untuk melihat tingkat pemahamannya. Jika si mahasiswa belum mampu mencapai tingkat pemahaman yang dipersyaratkan, dia bisa mengulangi tahap menguasai (mengingat) lalu kemudian kembali mengerjakan quiz atau latihan.

Perkuliahan berikutnya dilakukan di kelas (tatap muka), dengan kegiatan diskusi kelompok yang dirancang agar mahasiswa menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya untuk mengidentifikasi ciri dan unsur-unsur esai. Perkuliahan berikut, masih dalam bentuk tatap muka, dapat berupa kerja kelompok yang dirancang untuk menganalisis dan mengevaluasi bagian-bagian dari beberapa contoh esei. Perkuliahan tatap muka berikutnya dilakukan berupa kerja kelompok untuk membuat (berkreasi) bagian-bagian esei sendiri, sesuai dengan hasil pembelajaran sebelumnya. Pada saat ini, dosen bertugas memberi masukan yang dibutuhkan setiap kelompok. Perkuliahan selanjutnya bisa dilakukan secara online, dan mahasiswa diminta membuat bagian-bagian esei secara mandiri. Setelah itu, baik dosen maupun sesama mahasiswa memberikan masukan (feedback) untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mandiri tersebut.

VoE: Luar biasa, Pak. Dengan pendekatan pembelajaran seperti itu, mahasiswa benar-benar terlibat dan mendayagunakan serta mengembangkan semua tingkatan keterampilan berpikirnya. Selain memahami konsep atau pengetahuan, mahasiswa juga mengembangkan kemahiran berkomunikasi dan bekerjasama melalui penugasan berkelompok. Bahkan mereka juga terampil berkreasi.

PP: Betul sekali! Selain ranah kognitif, pembelajaran online juga membuat ranah afektif dan psikomotorik mahasiswa berkembang. Mereka tidak hanya mengetahui konsep, tetapi juga mengembangkan semua tingkat keterampilan berpikir, keterampilan berkolaborasi, dan kemampuan berinovasi (berkreasi).

VoE: Jika manfaat penerapan OL begitu luar biasa, mengapa, ya, Pak, masih ada pihak tertentu yang beranggapan bahwa implementasi model pembelajaran ini hanya tindakat mengikuti arus, bahkan ada yang menyebutnya sekedar gagah-gagahan?

PP: Saya kira hal itu timbul karena kurangnya pemahaman. Penyebab lainnya bisa saja dilatarbelakangi oleh keengganan berubah, alias ketakutan meninggalkan zona nyaman. Padahal, jika dicermati, implementasi pembelajaran online itu merupakan kebutuhan, bukan sekedar ikut arus atau gagah-gagahan.

 

Sumber Gambar

Online Learning: https://www.icslearn.co.uk/blog/posts/2015/december/ new-year-new-challenges-study-online-in-2016/

Bloom’s Taxonomy: https://linkinglearningoutcomestoassessments. wordpress.com/bloomstaxonomy/

FKIP UKI Kenalkan “Hybrid Learning” di Cianjur

Pada hari Sabtu, 10 Maret 2018 terjadi suasana yang berbeda di gedung Gereja Kerasulan Pusaka Rawaselang, Cianjur. Jika biasanya gereja yang terletak di kecamatan Palalangon itu dipenuhi jemaat untuk beribadah, Sabtu siang itu gereja dipenuhi oleh siswa dan guru SMP beserta orangtua siswa dan Pengurus Yayasan SMP Pusaka. Mereka hadir untuk mengikuti penyuluhan tentang Hybrid Learning.

Blended Lrng Rw SelangPenyuluhan berbentuk seminar itu diawali oleh narasumber dengan meminta 3 orang relawan berbeda generasi tampil ke depan. Melalui perkenalan terungkap bahwa relawan pertama berusia 51 tahun; relawan kedua, 34 tahun; ketiga, 14 tahun. Ketiga relawan menggunakan telepon genggam untuk berkomunikasi. Melalui slide, narasumber kemudian memperlihatkan 10 logo aplikasi yang lazim digunakan dalam teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Ketiga relawan ditanyakan berapa aplikasi yang dikenal dan digunakan untuk apa. Relawan pertama mengenal 3 aplikasi, yakni facebook, WhatsApp, dan sms. Relawan kedua mengenal 6 aplikasi, yakni facebook, gmail, twiter, webcam, Instagram dan WhatsApp. Sedangkan relawan ketiga, siswa kelas 8, mampu menyebutkan nama dan kegunaan seluruh aplikasi yang ditayangkan.

Bapak Parlindungan Pardede, sang narasumber menjelaskan, “Yang baru saja kita saksikan memperlihatkan betapa akrabnya generasi muda saat ini dengan TIK. Yang lahir antara tahun 1966-1976 atau generasi X merupakan pengguna TIK secara fungsional, untuk komunikasi primer. Yang lahir antara tahun 1977-1996 atau generasi Y, juga dikenal dengan milenal, menggunakan TIK untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi. Yang lahir antara tahun 1997-2017 atau generasi Z tumbuh bersama TIK. Kehidupan mereka terintegrasi dengan TIK. Komunikasi, informasi, hiburan, belanja, dan aktivitas lainnya cenderung ingin dilakukan dengan TIK. Jika generasi Z, yang menjadi pelajar di sekolah dasar hingga mahasiswa saat ini begitu menyatu dengan TIK, sangat wajar dan logis untuk memanfaatkan TIK sebagai media pembelajaran”.

“Jika unsur-unsur terbaik dalam pembelajaran tatap muka kita padukan dengan unsur-unsur yang ditawarkan teknologi berbasis jaringan internet, itulah yang disebut hybrid learning”, papar  Parlindungan Pardede ketika menjelaskan hakikat hybrid learning.

BL Rw SelangPemanfaatan teknologi berbasis jaringan internet memberikan banyak keuntungan. Pertama, pembelajaran bisa dilakukan kapan saja dan dari mana saja. Yang dibutuhkan hanyalah jaringan internet. Kedua, dalam jaringan internet tersedia materi pembelajaran dalam jumlah hampir tak terbatas dan bentuk yang sangat variatif. Bukan hanya dalam bentuk teks tetapi juga gambar, ilustrasi, video dan animasi. Ketiga, penerapan hybrid learning membuat literasi informasi, literasi media, dan literasi TIK berkembang. Semua itu wajib dikuasai setiap individu di era dijital saat ini.

Yang tidak kalah pentingnya, menurut Parlindungan Pardede, Dekan FKIP UKI saat ini, adalah bahwa “Hybrid learning memfasilitasi pengembangan kreativitas dan inovasi, berpikir kritis dan memecahkan masalah, kemahiran berkomunikasi, dan kemampuan bekerjasama, yang dikenal dengan istilah 4Cs (Creativity and Innovation, Critical Thinking and Problem Solving Communication, and Collaboration)”.

Pak Dekan FKIP UKI yang akrab dipanggil Pak Parlin ini kemudian menguraikan poin-poin itu dengan Bahasa yang akrab dengan remaja (mengingat audien didominasi siswa SMP) dan memberikan contoh-contoh yang akrab di kalangan remaja. Hal ini membuat seminar ini terasa segar dan sesekali diiringi gelak tawa.

Sebelum mengakhiri paparannya, Pak Parlin menegaskan: “Mengingat begitu pentingnya pembelajaran berbasis internet, salah satu kompetensi lulusan FKIP UKI mulai saat ini adalah kemampuan menyelenggarakan online learning. Kurikulum di FKIP didisain untuk mengembangkan kemampuan ini.” Beliau menambahkan, “Oleh karena itu, siapapun yang ingin menjadi pendidik kompeten di Abad-21, silahkan kuliah di FKIP UKI”.

“Siapapun yang ingin menjadi pendidik kompeten di Abad-21, silahkan kuliah di FKIP UKI”

Kepada Pengurus Yayasan dan Kepala Sekolah SMP Pusaka, Pak Parlin berpesan agar siswa mulai difasilitasi pembelajaran berbasis jaringan internet. Oleh karena itu, penyediaan  komputer yang terhubung dengan jaringan internet mendesak diwujudkan.

BL RSlgMenanggapi pertanyaan salah satu audien tentang kemungkinan siswa mengakses situs-situs yang tidak layak jika mereka belajar secara online, Pak Parlin menegaskan, “Karena internet bias diakses kapan dan di mana saja, tanpa melakukan hybrid learning pun siswa bisa mengakses situs-situs jorok. Yang perlu kita lakukan adalah membimbing dan memberi teladan kepada mereka. Siswa perlu disadarkan tentang pengaruh-pengaruh negatif mengakses situs berisi konten negatif”. (VoE of FKIP UKI)

 

 

Kiprah Goenoeng Moelia di Bidang Pendidikan dan Oikumene Indonesia

TSGMulia
T.S.G. Moelia

[Padangsidimpuan, VoE FKIP UKI] Membahas kiprah seorang tokoh besar di tanah kelahirannya sendiri bisa menimbulkan perasaan yang bercapur aduk. Itulah yang dirasakan Parlindungan Pardede sewaktu diundang oleh Pimpinan Pusat Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) menjadi narasumber dalam sebuah seminar yang diselenggrakan dalam rangka Perayaan Ulang Tahun GKPA ke42. Seminar yang dihadiri Para Pengurus Pusat GKPA, tokoh-tokoh Tapanuli Selatan. Dan perwakilan pemerintah Padangsidimpuan itu dilaksanakan pada hari Kamis,26 Oktober 2017 di Aula Kantor Pusat GKPA, Jl. Teuku Umar 102 Padangsidimpuan.

Walau sudah cukup sering berperan sebagai narasumber, undangan kali ini menimbulkan kesan tersendiri, karena topik yang diminta untuk dipaparkan adalah kiprah Goenoeng Moelia, tokoh yang lahir di Padangsidimpuan, di Bidang Pendidikan dan Gerakan Oikumene di Indonesia.

“Di satu sisi, saya senang bisa berbagi tentang “legacy” yang ditinggalkan Goenoeng Moelia. Di sisi lain, saya agak “deg-deg-an”, jangan-jangan warga Padangsidimpuan yang menjadi mayoritas audien lebih memahami Goenoeng Moelia dibandingkan saya sebagai narasumber,” jelas Parlindungan Pardede, yang biasa disapa dengan panggilan Pak Parlin. “Anda bisa membayangkan bagaimana rasanya membahas seorang tokoh besar di tanah kelahirannya?” beliau mengajukan pertanyaan yang tak perlu dijawab.

Dalam waktu sekitar satu jam, Pak Parlin yang juga merupakan Dekan FKIP UKI ini memaparkan perjalanan hidup Goenoeng Moelia secara sistematis. Tokoh yang lahir pada tanggal 21 januari 1896 di Padangsidimpuan itu ternyata menjalani khidupan yang cukup panjang (70 tahun), dinamis dan sarat dengan karya, pengabdian serta warisan berharga.

Kehidupan Goenoeng Moelia dibagi dalam tiga fase:  penyiapan, penerimaan tanggungjawab, dan kepeloporan. Fase pertama meliputi rentang waktu sejak dia lahir hingga menyelesaikan studi hukum di Universitas Leiden. Selama itu, dia benar-benar dipersiapkan oleh lingkungan dan pendidikan untuk kedua fase berikutnya. Fase kedua mencakup kiprahnya sebagai pendidik, aktivis Kristen, dan politisi. Fase terakhir mencakup kurun waktu 20 tahun terakhir dalam hidupnya. Selama itu, dia benar-benar menjadi pelopor (pioner) luar biasa yang memprakarsai dan mewujudkan berbagai lembaga besar dan terus berkiprah untuk mencerahkan kehidupan bangsa hingga saat ini. Lembaga-lembaga besar yang diwariskannya, antara lain: Dewan Gereja-Gereja Indonesia (DGI), yang sekarang dikenal sebagai PGI; Badan Penerbit Kristen (BPK) Gunung Mulia; Universitas Kristen Indonesia (UKI); dan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

UKI
UKI, Salah satu warisan Goenoeng moelia

Selain warisan berbentuk lembaga-lembaga besar, pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kehidupan mulia adalah kemampuannya membangun jejaring. Sepanjang hidupnya, dia tak henti berinteraksi dan membangun persahabatan. Sewaktu kuliah di Leiden, dia berinteraksi dengan dengan aktivis politik maupun Kristen. Ketika bekerja sebagai pendidik di Tapanuli dia juga menjalin hubungan baik dengan para pemimpin adat dan keagamaan. Oleh karena itu, dia selalu memiliki banyak sahabat untuk mewujudkan gagasan-gagasannya. “Goenoeng Moelia, tak diragukan lagi, merupakan tokoh yang sangat piawai membangun sinergi,” tegas Pak Parlin.

Selain itu, Goenoeng Moelia merupakan orang yang rendah hati. Dia selalumencegah upaya penulisan biografinya. “Kelihatannya beliau berupaya mencegah pengkultusan dirinya”, Pak Parlin mengakhiri pemaparannya. (VoE of FKIP UKI)

Catatan:

Makalah yang disajikan oleh Parlindungan Pardede dalam seminar ini dapat diunduh dari tautan yang diperoleh dengan cara meg-klik judul berikut:

Dari Tapsel untuk Indonesia: Moelia Mencerahkan Kehidupan Bangsa Melalui Pendidikan dan Gerakan Oikumene

Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Gelar Karyawisata untuk Kembangkan Keterampilan Kolaborasi, Sosial dan Lintas Budaya

Cuaca pada hari Sabtu pagi 3 Juni 2017 sangat cerah di Taman Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur. Jam masih menunjukkan pukul 07:30, tapi suasana di salah satu saung telah ramai. Di saung ini sekitar 130 mahasiswa, dosen, dan alumni Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI akan menggelar karyawisata (fieldtrip).

Tentang acara ini, Dekan FKIP UKI, Bapak Parlindungan Pardede yang juga turut hadir menuturkan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai salah bentuk pembelajaran dalam rangka mengembangkan keterampilan berkolaborasi, bersosialisasi, dan berlintas-budaya di kalangan mahasiswa.

Dengan mantap, Pak Dekan, dengan panggilan akrab Pak Parlin ini menjelaskan, “Untuk menjawab tantangan hidup di Abad-21, setiap individu tidak dapat mengandalkan pengetahuan saja tetapi juga berbagai keterampilan, yang biasanya digolongkan dalam tiga kelompok: keterampilan belajar dan berinovasi; literasi informasi, media dan teknologi; dan keterampilan hidup dan karir. Pentingnya perpaduan pengetahuan dan keterampilan-keterampilan itu terutama diakibatkan oleh semakin merasuknya teknologi secara masif ke dalam setiap sendi kehidupan. Kegiatan fieldtrip ini dirancang sebagai salah satu upaya untuk mengembangkan keterampilan berkolaborasi, bersosialisasi, dan berlintas-budaya para mahasiswa”.

“Untuk menjawab tantangan hidup di Abad-21, setiap individu tidak dapat mengandalkan pengetahuan saja tetapi juga … keterampilan belajar dan berinovasi; literasi informasi, media dan teknologi; dan keterampilan hidup dan karir.”

Saniago Dakhi, M. Hum, dosen yang mengkoordinir kegiatan ini menambahkan bahwa kegiatan fieldtrip yang diberi tema “Sharing and Caring for Making Dreams Come True” ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa berkolaborasi, bersosialisasi, dan berlintas-budaya. Dalam kegiatan ini sengaja dilibatkan unsur mahasiswa, dosen dan alumni.

PP“Melalui acara-acara yang telah dirancang, seluruh peserta, khususnya mahasiswa, akan semakin kompak. Mereka akan semakin mampu berkomunikasi dan bekerjasama dengan sesama mahasiswa maupun dosen dan alumni. Kenyataan bahwa para mahasiswa dan dosen berasal dari berbagai suku bangsa dan berbeda usia merupakan kondisi yang baik untuk mengembangkan kemahiran berlintas-budaya dan komunikasi lintas generasi. Para dosen dan Pimpinan Program Studi dapat menampung ide, masukan, dan saran dari mahasiswa serta alumni. Sedangkan para alumni dapat menggalang kerjasama dengan almamater dalam program pengembangan profesionalisme mereka. Satu hal penting lainnya, kegiatan ini diorganisir mahasiswa. Para dosen hanya sebagai fasilitator,” Pak Saniago menambahkan.

Tepat pukul 08:00 acara dimulai dengan ibadah yang di dalamnya Pak Parlin ditugaskan sebagai pembawa renungan. Berdasarkan nats Ibrani 10:24-25 yang memerintahkan agar umat Tuhan  saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik,  serta saling menasihati, Pak Parlin menuturkan bahwa sejak awal Tuhan mendisain manusia bukan untuk hidup sensiri, tetapi sebagai mahluk sosial. Dalam Kejadian 2:18 dinyatakan, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja.” Peristiwa ketika empat orang menurunkan seorang yang lumpuh dari atap agar dapat tiba ke hadapan Yesus dan disembuhkan. Ketika Yesus akan membangkitkan Lazarus, Dia terlebih dahulu meminta kerjasama beberapa orang untuk menggulingkan batu penutup pintu makam. Ada banyak kisah yang mempertegas betapa luar biasanya dampak sebuah teamwork.

Jemaat“Agar sukses dalam pengertian yang sebenarnya, kita harus saling isi, membangun jejaring, dan membentuk teamwork yang solid, baik dengan sesama maupun dengan Tuhan”, tandas Pak Parlin.

Dalam sambutan yang dilakukan seusai ibadah, Bapak Horas Hutabarat, M. Hum., Kaprodi  Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI mengingatkan para mahasiswa untuk selalu gigih belajar, agar hasilnya benar-benar menjadi modal yang kuat untuk berkiprah di masyarakat. Jadikan perkuliahanmu sebagai perwujudan iman kepada Tuhan. Kepada para alumni beliau berpesan agar mereka selalu dengan penuh kasih berkarya di dunia kerja masing-masing dan selaluingat pada Prodi Pendidikan Bahasa Inggris,  sebagai almamater. Bentuk penghargaan kepada almamater bisa dilakukan melalui partisipasi dalam segala bentuk kegiatan prodi, khususnya melalui penyediaan informasi tentang lowongan kerja kepada adik-adik kelas yang membutuhkannya.

KeakrabanAcara kemudian dilanjutkan dengan menggelar berbagai lomba berkelompok yang pada dasarnya diarahkan untuk membangun sinergi dan semangat teamwork. Acara ditutup pada pukul 16.00 dengan menyanyikan lagu pujian dan memanjatkan doa bersama.

“Saya sangat senang mengikuti acara field trip ini. Harapan kami kegiatan serupa dilakukan berkelanjutan” pesan Clara, salah satu perserta. Reggy, seorang peserta lain menambahkan, “pasti lebih seru dan berkesan jika field trip di tahun tahun mendatang dilaksanakan di luar kota Jakarta”.

Dewi, salah satu alumni, dengan nada haru mengatakan, “Sangat senang bisa bertemu kembali dengan Bapak/Ibu dosen saya yang hebat-hebat, inspiratif dan selalu peduli serta melayani. Pengalaman saya di dunia kerja dan hidup bermasyarakat membuktikan didikan dan inspirasi yang mereka berikan sangat menolong saya dalam menghadapi tantangan maupun menyelesaikan masalah. Maju terus, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI! Tetaplah melayani, bukan dilayani!” (VoE FKIP UKI)

“Sangat senang bisa bertemu kembali dengan Bapak/Ibu dosen saya yang hebat-hebat, inspiratif dan selalu peduli serta melayani. Pengalaman saya di dunia kerja dan hidup bermasyarakat membuktikan didikan dan inspirasi yang mereka berikan sangat menolong saya dalam menghadapi tantangan maupun menyelesaikan masalah.”

 

Sejenak di Pangkuan Almamater

Jakarta, VoE FKIP UKI. Sepanjang hari Jumat, 28 Oktober 2016, Auditorium GWS UKI diwarnai suasana meriah. Pada hari itu FKIP UKI menyelenggarakan Perayaan Ulang Tahun ke-63. Sebagai fakultas sulung atau fakultas tertua di UKI, tanggal berdirinya FKIP sama dengan tanggal berdirinya UKI, yakni 15 Oktober 1953.

tiup lilin“Awalnya perayaan ini akan dilaksanakan sedekat mungkin dengan tanggal 15 Oktober. Tapi, cukup banyak alumni yang meminta perayaan ini dilakukan di akhir bulan agar puluhan alumni yang tinggal jauh dari Jakarta lebih leluasa mempersiapkan diri untuk turut hadir. Itulah sebabnya perayaan dilakukan hari ini. Alumni menepati janji mereka. Dari sekitar 60 alumni yang hadir, 19 berasal dari luar Jakarta, ” Ibu Dr. Erni Murniarti, M.Pd., Ketua Pelaksana perayaan ini.

“Bahkan, tema acara ini, “Sejenak di Pangkuan Almamater ” terinspirasi dari animo para alumni dari berbagai daerah untuk menghadiri acara ini,” Bu Erni menambahkan.

Walaupun acara baru akan dimulai pukul 10:00, sejak pukul 09:00 auditorium berkapasitas 300 kursi sudah terlihat hampir penuh. Terlihat para hadirin dari berbagai jenjang usia saling sapa dan sesekali tertawa bersama. Lobby auditorium juga ramai. Dosen, mahasiswa dan alumni bercengkrama dengan asyik dalam beberapa kelompok.

Duta FKIP-UKIAcara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan dilanjutkan dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Stephanus Daniel, M.Th., Kaprodi PAK. Salah satu yang menarik dalam ibadah ini adalah penampilan Paduan Suara Duta FKIP. Dua lagu yang mereka persembahkan membuat ibadah semakin khusuk.

Seusai ibadah, acara perayaan pun digelar. Setelah sambutan Rektor, yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Administrasi & Keuangan, acara dilanjutkan dengan sambutan Dekan FKIP, Bapak Parlindungan Pardede. Sambutan beliau didominasi oleh pemaparan perjalanan dan kondisi FKIP saat ini, yang diberi judul “Potret Amamater”. Selama 63 tahun perjalanannya, FKIP sudah meluluskan lebih dari 6.000 alumni yang berkiprah di berbagai sektor. Sekitar 73% alumni FKIP berkiprah di bidang pendidikan, dan 27% lainnya di bidang politik, birokrasi, perbankan, professional di sektor swasta serta berwiraswasta, menjadi pengusaha. Dilihat dari domisili mereka, alumni FKIP ternyata menyebar hampir di seluruh provinsi di NKRI. Bahkan ada juga yang menetap di mancanegara, seperti Singapura, Hongkong, Taiwan, Amerika Serikat, dan benerapa negara Eropa.

PAK“Paradigma pendidikan berkembang sangat dinamis. Untuk memahami kebutuhan nyata di masyarakat, kami, segenap dosen dan tenaga kependidikan, yang merawat Almamater teman-teman membutuhkan saran dan masukan. Dengan demikian, FKIP semakin mampu memberikan layanan dan bimbingan kepada adik-adik Anda. Jika tema kita saat ini berbunyi ‘Sejenak di Pangkuan Almamater’, saya berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama teman-teman menyelenggarakan reuni bertema ‘Puluhan Jenak Berkarya Bersama Almamater’,” Pak Dekan menutup sambutannya.

Setelah acara tiup lilin dan pemotongan kue ulang tahun, mewakili alumni yang hadir, Abner bin Ner, memberi sambutan. Anggota DPRD Halmahera Utara menyatakan dia secara khusus datang dari Tobelo untuk menghadiri perayaan ini. “Setiap mendengar nama FKIP UKI, hati saya selalu bergetar. Saya tidak bisa melupakan berkat Tuhan yang saya terima melalui FKIP UKI. Bayangkan, saya datang dari kampung saya tanpa membawa biaya sepeserpun. Kondisi saat itu sebenarnya tidak memungkinkan saya bisa kuliah. Namun dengan beasiswa yang saya peroleh dari UKI, dengan bantuan Tuhan don dukungan dosen-dosen saya, kuliah bisa saya selesaikan. Ini periode ketiga saya diberi amanah menjadi anggota DPRD. Bimbingan dan didikan yang saya terima juga memampukan saya bersaing dan bersinergi di lingkungan DPRD Halmahera Utara. Teman-teman alumni yang ada di Jakarta, silahkan direalisasikan harapan Pak Dekan tadi. Kami yang di daerah siap mendukung”, imbuh Alumni Program Studi Pendidikan Biologi ini.

hadirinSetelah makan siang bersama, setiap program studi diminta menghimpun dosen, mahasiswa, dan alumni yang hadir untuk menampilkan kreasi kebersamaan. Persembahan setiap kelompok prodi yang kebanyakan mengkombinasikan lagu dan tari itu ternyata sangat menghentak. Acara kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu “Kemesraan” oleh seluruh hadirin.