Akademisi Indonesia belum Beri Perhatian terhadap Pengembangan Kemahiran Membaca

“School made us ‘literate’ but did not teach us to read for pleasure.” (Ambeth R. Ocampo)

[Jakarta, VoE FKIP UKI] Tak diragukan lagi, Extensive Reading sangat efektif untuk mensukseskan pembelajaran Bahasa kedua atau Bahasa asing, termasuk Bahasa Inggris. Jika diimplementasikan dengan baik, Extensive Reading memperkaya kosa kata, meningkatkan pemahaman serta kecepatan membaca, mengembangkan kemahiran menulis, membangun kepercayaan diri, motivasi, dan sikap positif siswa. Pengalaman dan penelitian di berbagai belahan dunia sudah membuktikannya. Namun sangat disayangkan pengembangan kemahiran dan kesukaan membaca masih belum memperoleh perhatian para akademisi atau peneliti di nusantara.

1. ER SPernyataan ini diungkapkan oleh Saniago Dakhi dalam simposium internasional bertajuk The Power of Extensive Reading di Ruang video Conference, Kampus UKI Cawang, Jakarta Timur. Dalam simposium diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP-UKI bekerjasama dengan Extensive Reading Foundation (ERF) dan The Indonesian Extensive Reading Association (IERA) pada hari Jumat, 6 Juni 2018 itu, Saniago Dakhi, dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI yang akrab dipanggil Pak Sani itu tampil sebagai salah satu dari enam narasumber yang dihadirkan panitia.

2. ERs

Hasil survei Central Connecticut State University tahun 2016 menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan minat baca terendah kedua dari 61 negara yang diteliti. Indonesia hanya setingkat lebih baik dari Botswana. Thailand yang menduduki peringkat ke-59, setingkat lebih baik dari Indonesia.

Ternyata kondisi itu belum menggugah perhatian akademisi dan peneliti di Indonesia. Hasil analisis Pak Sani terhadap konten artikel-artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah nasional terakreditasi bidang pengajaran Bahasa Inggris menunjukkan bahwa dari ratusan artikel yang dipublikasikan dalam enam jurnal terakreditasi nasional yang terbit selama 5 tahun terakhir, terdapat hanya 9 (2,12%)  artikel tentang “reading”, dan tak satupun artikel yang menyoroti Extensive Reading.

“Temuan ini menunjukkan betapa kurangnya perhatian terhadap pengembangan kemahiran membaca, khususnya ‘Extensive Reading’,” tandas Pak Sani. “Hal ini tentu saja menjadi tantangan bagi akademisi dan peneliti bidang pengajaran bahasa di negara kita. Untuk membantu para praktisi pendidikan menyelenggarakan Extensive Reading, masukan-masukan dari peneltian empiris sangat diperlukan,” ujar Pak Sani mengakhiri presentasinya.

3. ER sani

Slides presentasi Pak Sani bisa didownload dari https://www.researchgate.net/publication/326252384_CURRENT_TREND_IN_ENGLISH_READING_TEACHING_A_REVIEW_IN_INDONESIA_CONTEXT

 

Prodi PAK FKIP UKI Membentukku Jadi Agen Perubahan

“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” (Nelson Mandela)

Saya bersyukur kepada Tuhan dan tak lupa berterima kasih kepada redaksi VoE untuk kesempatan berbagi pengalaman sewaktu kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia (FKIP UKI) dan setelah lulus.

PAk1Saya, Yunita Rosdiana Manakutty, S.Pd.K, alumni FKIP, Prodi Pendidikan Agama Kristen, angkatan 2013. Terus terang, pada awalnya saya masuk di Prodi PAK karena dipaksa orang tua. Ketika itu, bagi saya, yang dipelajari di prodi ini sama sekali nggak keren. “Bagaimana cara mendidik dan berkhotbah, paling itu doang yang digumuli,” pikir saya.

Tapi, demi nyenengin orang tua, dan daripada nganggur, saya jalani saja kuliah di Prodi PAK FKIP UKI. Seiring waktu pandangan saya berubah. Yang saya pelajari ternyata sangat meluaskan wawasan, mengembangkan keterampilan, dan mengubah cara berpikir. Cara mendidik dan berkhotbah sudah pasti ada. Tapi itu hanya bagian dari pembelajaran. Berbagai pelatihan dan aktivitas yang saya ikuti membekali saya dengan banyak hal penting lainnya. Keterampilan bermusik, yang membuat saya “peka” terhadap dunia sekitar; berpikir kritis yang saya butuhkan untuk menimbang mana yang akurat dan valid, mana yang tidak; berpikir kreatif, yang menolong saya dalam berkarya; kajian lintas budaya dan lintas agama yang membantu dalam menjawab tantangan, hambatan dan persoalan lintas agama, sosial dan negara; dan pembentukan nilai-nilai yang selalu menuntun saya untuk beretika, disiplin, bertanggung jawab, peduli, dan profesional.

Yang tak kalah penting adalah pembelajaran di Prodi PAK FKIP UKI tidak hanya sebatas teori. Aktivitas pembelajaran bukan hanya menggeluti buku-buku teks. Saya juga difasilitasi dengan berbagai macam praktik di kehidupan nyata. Semua pengalaman itu memampukan saya mengaplikasikan konsep-konsep yang saya pelajari. Bahkan saya jadi tahu aspek-aspek yang perlu saya kembangkan untuk memberikan pelayanan secara professional.

Dengan segala pembelajaran dan aktivitas yang begitu menarik, meskipun jarak antara rumah saya dan kampus cukup jauh, saya tidak pernah lelah, apalagi bosan. Dosen-dosen yang ramah dan inspiratif serta teman-teman yang siap berbagi selalu ngangenin hingga saya senantiasa bersemangat berangkat ke kampus. Bolos kuliah tidak ada dalam kamus saya. Jika saya tidak ikut pembelajaran, pasti saya akan tertinggal ilmu dan pengalaman berharga.

Pembelajaran di Prodi PAK UKI ternyata menempa saya menjadi “berbeda” dengan teman-teman yang kuliah di tempat lain dalam hal menatap masa depan. Begitu lulus, sedikitpun saya tidak khawatir akan hari esok. Tidak sedikit teman-teman alumni di universitas lain yang stress setelah lulus karena tak kunjung mendapat pekerjaan.

Tempaan Prodi PAK UKI membuat saya berpandangan bahwa latar belakang keilmuan tidak boleh membatasi ruang gerak seseorang untuk berkarya. Oleh karena itu, bermodalkan ilmu, keterampilan dan nilai-nilai yang saya miliki, saya bereksperimen. Alih-alih mencari pekerjaan di bidang pendidikan, saya membidik dunia Industri International di Cikarang-Bekasi. Posisi yang saya sasar adalah Assisten Direksi di perusahaan pembuat French Pastry. Kompetensi yang saya miliki ternyata membuat saya lulus dari tes seleksi dan diikutkan dalam uji coba kerja selama 3 bulan.

Dengan niat ingin membuat perubahan di mana saya ditempatkan, tempaan selama belajar di Prodi PAK UKI membuat saya tidak pernah ragu berinisiatif dan melakukan yang terbaik. Puji Tuhan, hasil penilaian selama uji coba kerja 3 bulan itu menghasilkan penilaian baik. Di kolom komentar pada lembaran evaluasi saya tertulis “Meskipun tidak ada pengalaman di dunia industri, semangat, etika, kejujuran dan tanggungjawab dalam bekerja memberikan pengaruh positif terhadap karyawan lainnya”.

Sampai saat ini saya masih bekerja diperusahaan tersebut. Dan yang sangat membahagiakan saya adalah kesempatan yang saya peroleh melayani (menjadi pemain musik, pembawa khotbah, berbagi pengalaman,dll) dalam ibadah mingguan yang dilakukan setiap hari Jumat di kantor saya.

PAK2Berdasarkan pengalaman itu, izinkanlah saya berpesan kepada para junior saya di Prodi PAK UKI dan juga adik-adik yang sedang mencari tempat kuliah. Jangan pernah takut dan khawatir akan masa depan. Jangan risau dan bertanya, “Setelah lulus dari prodi PAK, akan kemana?” Jika kamu benar-benar mengembangkan ilmu, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang disediakan di Prodi PAK FKIP UKI, yakinlah semua yang terbaik yang sudah dirancangkan oleh-Nya bagimu akan indah pada waktunya.

Kembangkan dirimu menjadi insan yang berilmu, terampil, bersikap dan memiliki nilai-nilai luhur. Lalu, tanamkan tekad untuk mengaplikasikan semua itu untuk membuat perubahan kapanpun dan di manapun kamu berada. Organisasi, lembaga atau perusahaan apapun akan tertarik merekrutmu.

Bekasi, medio Juni 2018

Yunita Rosdiana Manakutty (Prodi PAK FKIP UKI, Angkatan 2013)