Teknologi sebagai Alternatif untuk Menjawab Tantangan Penerapan “Extensive Reading”

“Books are no more threatened by Kindle than stairs by elevators.” (Stephen Fry)

[Jakarta, VoE FKIP UKI] Berbagai hasil penelitian dan pengalaman membuktikan bahwa Extensive Reading yang diimplementasikan dengan baik sangat efektif untuk mendukung keberhasilan pembelajaran Bahasa kedua atau Bahasa asing. Selain memperkaya kosa kata, meningkatkan kecepatan serta pemahaman membaca dan mengembangkan kemahiran menulis, Extensive Reading juga membangun sikap positif, kepercayaan diri dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu, Extensive Reading sangat baik dan perlu diimplementasikan.

ER-PP2Paparan itu diungkapkan oleh Parlindungan Pardede ketika memulai presentasinya dalam Simposium bertajuk “The Power of Extensive Reading” yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP-UKI pada hari Jumat, 6 Juni 2018 di Ruang video Conference, Kampus UKI Cawang, Jakarta Timur. dengan menghadirkan Dr. Rob Waring (salah seorang Direktur Eksekutif ERF), Dr. Willy A. Renandya (juga salah seorang Direktur Eksekutif ERF) dan Yusefa Iswandari (Presiden IERA) sebagai narasumber tamu.

Parlindungan Pardede, yang saat ini dipercaya sebagai Dekan FKIP-UKI memaparkan bahwa tiap  siswa harus membaca buku, artikel, atau bahan lainnya sebanyak 200,000 kata atau lebih dalam setahun agar untuk memperoleh  manfaat yang ditawarkan Extensive Reading. Teks sebanyak itu tidak mencakup buku-buku teks yang diwajibkan dalam pembelajaran atau perkuliahan, karena Extensive Reading dilakukan di luar kelas.

“Diperlukan berbagai tipe dan tingkat kesulitan bacaan untu memfasilitasi Extensive Reading  sebuah kelas yang mungkin terdiri dari 25 hingga 30 siswa. Karena membutuhkan biaya yang besar, hal ini seringkali menjadi kendala, Selain itu, untuk memastikan bahwa semua siswa benar-benar membaca dan membantu mereka yang menemukan kesulitan membaca bukanlah tugas yang mudah bagi guru,  karena Extensive Reading dilakukan di luar jam pembelajaran di kelas. Yang tak kalah penting adalah kenyataan bahwa siswa saat ini tidak hanya membaca teks cetak tetapi juga teks dijital. Oleh karena itu, Online Extensive Reading (OER) atau Extensive Reading berbasis teknologi informasi dan komunikasi perlu dimanfaatkan sebagai alternatif,” papar Pak Dekan yang akrab dipanggil pak Parlin ini.

“Terdapat dua pilihan yang bisa kita ambil untuk menyelenggarakan OER. Pertama, kita bisa menggunakan perpustakaan virtual yang menyediakan bahan bacaan bertingkat (graded reading) dan sistem manajemen pembelajaran atau Learning Management System (LMS) seperti Xreading. Setelah mendaftar dan membayar sebagai pengguna perpustakaan virtual itu, melalui komputer, laptop atau hand phone, setiap siswa memiliki akses untuk membaca dan mengerjakan kuis atau menuliskan respon. Kedua, kita dapat membuat perpustakaan virtual sendiri dengan cara mengumpulan link-link bahan bacaan dalam sebuah web yang kita miliki untuk diakses oleh siswa kita. Lalu pada halaman lain kita bisa menyiapkan tempat bagi siswa untuk mengerjakan kuis atau menuliskan respon, seperti yang dilakukan oleh Pino-Silva,” imbuh Pak Parlin.

Sesi presentasinya diakhiri oleh Pak Parlin dengan memaparkan beberapa hasil penelitian yang relevan dengan pemanfaatan perpustakaan virtual untuk  Extensive Reading, baik perpustakaan virtual berbayar yang telah tersedia di internet maupun yang dibuat sendiri oleh guru.

“Yang jelas, kita harus selalu berupaya menggunakan kreativitas dan bantuan teknologi untuk mengatasi kendala-kendala yang muncul dalam setiap pembelajaran bagi generasi muda yang kita didik”, tegas Pak Parlin mengakhiri presentasinya.

ER-PP1

File presentasi Pak Parlin bisa didownload dari:

https://parlindunganpardede.wordpress.com/2018/07/02/online-extensive-reading/

Prodi Kimia FKIP UKI Mulai Lahirkan Mahasiswa Berprestasi Nasional

[Jakarta, VoE FKIP UKI]. Selasa sore, 12 Juni 2018, tiga mahasiswi Program Studi (Prodi) Pendidikan Kimia terlihat duduk di ruang tunggu Sekretariat FKIP. Mengenakan jaket almamater berwarna biru mereka terlihat enerjik dan penuh semangat. Pkm1“Kami sudah janjian untuk ngobrol-ngobrol dengan Pak Dekan dan Pak Wadek,” ujar Lusi Nuriati Sitorus yang saat itu didampingi dua temannya, Fenny Maria dan Anggia Murni, dan Ibu Leony Sanga Lamsari Purba, M.Pd.

Begitu Pak Dekan, Parlindungan Pardede, yang baru selesai mengajar, tiba perbincangan langsung di lakukan di ruang kerja Dekan. “Bersama Pak Wadek, saya ingin memastikan Tim PKM adik-adik bertiga dapat menyelesaikan penelitian yang didanai oleh Kemenristekdikti itu dengan baik,” ujar Pak Dekan mengawali perbincangan.

Ketiga mahasiswi yang ramah dan murah senyum itu ternyata baru beberapa waktu sebelumnya diumumkan oleh Dirjen Belmawa Kemenristekdikti sebagai salah satu tim pemenang hibah untuk kelompok Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM PE) 2018.

PKM2Proposal kami berjudul “Analisis Laju Perubahan Oksigen Terlarut (DO) dan Tingkat Keasaman (pH) Air Sekitar Muara Angke”. Penelitian ini berawal dari kuliah lapangan yang kami lakukan di Pelabuhan Muara Angke tahun lalu. Tiba di lokasi, tercium aroma yang kurang sedap. Penasaran dengan sumber bau tersebut, kami mencoba menelusuri. Ternyata aroma itu berasal dari air muara angke. Kesimpulan sementara kami, air dengan bau yang menyengat itu tentu berdampak pada air tanah. Akibatnya, masyarakat sekitar tidak mungkin menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari,” Lusi Nuriati Sitorus, Ketua Tim PKM tersebut menjelaskan latar belakang penelitian mereka.

Pengalaman itu menginspirasi mereka untuk mengikuti kompetisi hibah PKM Kemenristekdikti yang diumumkan Biro Kemahasiswaan UKI beberapa waktu kemudian. Sebagai Dosen Pembina HMPS Prodi Pendidikan Kimia dan sekaligus pengampu Mata Kuliah “Kimia Fisika I-Kinetika Reaksi (Laju Reaksi)”, Ibu Leony, secara proaktif memberikan masukan. Setelah melalui beberapa kali diskusi, diputuskan untuk meneliti sifat atau kandungan air yang ada di Muara Angke, khususnya tentang pH (Tingkat Keasaman) dan DO (Oksigen Terlarut).

PKM-2aUntuk menjaring data awal yang komprehensif, Lusi dan kedua temannya menyambangi warga masyarakat sekitar Muara Angke. Ditemukan bahwa sebagian masyarakat disana menggunakan air yang dipasok PT. PDAM dan sebagian lagi membeli air seharga Rp. 5.000/jerigen. Dengan bimbingan dan dorongan Bu Leony, ke tiga mahasiswi ayu namun lincah dan enerjik itu berhasil menyelesaikan pembuatan proposal dan persyaratan lainnya.

“Hasil penelitian ini nantinya bisa menjadi landasan penelitian lanjutan untuk membuat alat pemurnian air seperti yang ada di sekitar Muara Angke agar dapat digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari,” Ibu Leony, dosen berpembawaan tenang dan murah senyum ini, menambahkan.

PKM 3aSebelum mengakhiri perbincangan, Pak Dekan menandaskan, “FKIP UKI sangat senang dengan capaian kalian. Tahun lalu, Tim PKM Prodi Fisika kita melakukan hal yang sama. Capaian di bidang PKM ini adalah salah satu bukti pendekatan perkuliahan yang berpusat pada mahasiswa (students-centered), filosofi konstruktivisme dan pandangan “Students are producers, not consumers, of knowledge” mulai membuahkan hasil. Terus kembangkan pemikiran kritis kreatif kalian. Bina terus semangat kerjasama tim. Asah kepedulian pada kebutuhan masyarakat. Kalian akan menjadi bagian anak bangsa yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan dan pembangunan bangsa.’

“Kami selalu siap mendukung keberhasilan kalian. Setiap saat, silahkan berkonsultasi kepada Bu Leony, Kaprodi, ataupun kepada saya dan Pak Dekan. Tim kalian ini harus berhasil menyelesaikan misinya dengan baik, supaya calon tim-tim PKM dari semua program studi kita, yang saya yakin siap berkarya di tahun-tahun berikut, bisa terinspirasi bercermin pada pengalaman kalian,” imbuh Wakil Dekan, Bapak Kerdit Simbolon, M.Pd.

Selamat berkarya dan mengukir prestasi buat Lusi Nuriati Sitorus, Fenny Maria dan Anggia Murni. Selamat dan sukses juga buat Ibu Leony Sanga Lamsari Purba, M.Pd.

Pkm4

Online Learning: Untuk Gagah-Gagahan, atau Karena Kebutuhan?

“Selain ranah kognitif, pembelajaran online juga membuat ranah afektif dan psikomotorik mahasiswa berkembang. Mereka tidak hanya mengetahui konsep, tetapi juga mengembangkan semua tingkat keterampilan berpikir, keterampilan berkolaborasi, dan kemampuan berinovasi (berkreasi).”

PP

[Jakarta, VoE of FKIP UKI] Laporan ini adalah bagian kedua dari hasil wawancara Redaksi VoE dengan Bapak Parlindungan Pardede, Dekan FKIP UKI, yang dilakukan dalam rangka menyambut Peringatan Hari  Pendidikan Nasional, 2 Mei 2018. Bagian pertama wawancara pada 30 April 2018 itu, yang berfokus pada peran teknologi di dunia pendidikan di Abad-21, telah kami publikasikan dengan judul Teknologi akan Rampas Profesi Guru dan Dosen? Bagian kedua ini berfokus pada hakikat dan manfaat penggunaan teknologi dalam pembelajaran, yang lebih dikenal dengan pembelajaran Online Learning.

Redaksi VoE FKIP UKI (VoE): Pengertian Online Learning (OL) masih belum jelas bagi banyak kalangan. Mohon pencerahan, Pak.

Parlindungan Pardede (PP): Online Learning (OL) pada dasarnya merupakan pembelajaran yang peralatan, materi dan prosesnya berbasis jaringan internet. Dalam OL, materi, rencana aktivitas, dan evaluasi pembelajaran disiapkan oleh guru/dosen dan diakses serta dikerjakan oleh siswa/mahasiswa melalui internet. Interaksi dan diskusi (antara siswa dengan guru maupun antara siswa dengan siswa lain), juga berlangsung melalui intenet.

VoE: Pada saat ini juga bermunculan istilah e-learning, web-based learning, blended learning, hybrid learning, distance learning, dan MOOCs. Apakah semua istilah itu mengacu pada hal yang sama atau berbeda?

PP: Terminologi e-learning pada awalnya mengacu pada pembelajaran berbasis komputer. Materi dan proses pembelajaran dimasukkan dan diakses melalui CD-ROM. Tapi sekarang e-learning telah menggunakan internet sebagai basis. Jadi, e-learning pada hakikatnya identik dengan OL.

OL2Dilihat dari kata-kata pembentuknya, web-based learning (WBL) mengacu pada pembelajaran berbasis jaringan internet. Jadi, WBL sama saja dengan OL atau e-learning.

Blended learning dan hybrid learning mengacu pada pendekatan pembelajaran yang sama, yakni yang memadukan pembelajaran konvensional (tatap muka) dengan pembelajaran onlineBlended learning atau hybrid learning dilakukan dengan cara merancang sesi perkuliahan tertentu secara online dan sesi lainnya secara tatap muka.

MOOCs (Massive Open Online Courses) yang dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai MPDTM (Materi Pembelajaran Daring Terbuka dan Masif) mengacu pada pembelajaran online gratis namun tanpa diberi bobot kredit yang bisa diikuti oleh siapa saja dan tanpa persyaratan apapun. Berbagai universitas, misalnya memfasilitasi MOOCs bentuk video, artikel, slide power-poin, dan modul tentang topik tertentu. Karena dipublikasikan secara online dan terbuka, materi-materi itu dapat diakses oleh siapa saja dan kapan saja. Sebagian materi itu ada yang berbentuk pembelajaran singkat (kursus) yang pada awalnya gratis. Namun karena tingginya animo masyarakat untuk memperoleh sertifikat setelah menyelesaikan kursus tertentu, berbagai institusi saat ini menawarkan pembelajaran dengan biaya tertentu.

Distance learning, dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai “Pembelajaran Jarak Jauh” (PJJ), mengacu pada pembelajaran yang dilakukan oleh siswa/mahasiswa secara mandiri tanpa interaksi dengan guru/dosen maupun dengan sesama siswa/mahasiswa. Pada awalnya, materi, aktivitas, dan evaluasi pembelajaran distance learning dipaketkan dalam teks (modul) dan rekaman audio atau video. Tapi sekarang penyampaian materi dan interaksi dilakukan juga melalui webinars, teleconferences, maupun email. Jadi, distance learning juga menerapkan prinsip OL. Perlu ditekankan bahwa Pemerintah kita sekarang sedang menggalakkan program distance learning atau PJJ) yang menerapkan prinsip OL. Program itu dikenal dengan istilah SPADA (Sistem Pembelajaran Dalam Jaringan).

VoE: Bapak mengatakan Pemerintah kita sudah mendorong program berbasis OL, yang disebut SPADA (Sistem Pembelajaran Dalam Jaringan). Mohon penjelasan lebih lanjut, Pak.

PP: Sebagai negara kepulauan faktor geografis menjadi kendala tersendiri bagi banyak warga negara kita untuk memperoleh pendidikan tinggi berkualitas. Oleh karena itu, melalui Kemenristek Dikti, Pemerintah RI memutuskan untuk meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi melalui penerapan SPADA. Dengan demikian, mahasiswa yang tinggal di Papua, misalnya, tidak perlu datang ke Yogyakarta untuk mengikuti perkuliahan yang diselenggarakan kampus di Yogyakarta. Mereka cukup mengikuti perkuliahan dalam jaringan. Jika APK pendidikan tinggi dengan model pembelajaran konvensional hanya meningkat 0,5% setiap tahun, dengan menerapkan SPADA diharapkan APK meningkat menjadi 2% per tahun.

VoE: Ternyata penerapan OL itu membuka kesempatan luar biasa bagi masyarakat untuk memperoleh pembelajaran, ya, Pak. Tapi, selain pemberian akses yang sangat luas kepada masyarakat, apakah OL menawarkan manfaat lain?

PP: OL bisa diselenggarakan secara synchronous atau asynchronous. Jika dilakukan secara synchronous, mahasiswa dan dosen berinteraksi melalui internet pada waktu yang bersamaan. Kegiatan pembelajaran bisa berupa teleconference maupun interaksi melalui skype. Sedangkan dalam pembelajaran asynchronous interaksi berlangsung dalam waktu yang berbeda. Biasanya dosen mengupload rekaman video, modul, tugas, kasus, atau tes yang dapat diakses mahasiswa untuk dipelajari atau dikerjakan kapanpun, asalkan tidak melewati tenggat waktu yang ditentukan. Dengan demikian OL sangat sesuai bagi mahasiswa yang memerlukan waktu belajar yang fleksibel. Mahasiswa yang bekerja di pagi hingga sore hari, misalnya, dapat melakukan perkuliahan di malam hari.

VoE: Selain fleksibilitas waktu, apakah masih ada manfaat lain yang bisa diperoleh dari OL?

PP: Penerapan OL memungkinkan bagi guru/dosen menghemat waktu. Anda tentu tahu tugas mengajar itu melibatkan banyak pekerjaan. Memutakhirkan materi pembelajaran, menyiapkan media yang sesuai, memeriksa kertas kerja, membuat penilaian, mendokumentasikan kemajuan siswa/mahasiswa, memberikan pelayanan khusus kepada siswa/mahasiswa tertentu dan banyak lagi. Fasilitas teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan dalam OL dapat digunakan untuk membantu, bahkan menggantikan pelaksanaan sebagian dari tugas-tugas itu. Sebagai contoh, karena tersedia dalam bentuk soft copy, modul pembelajaran dapat direvisi dengan mudah sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, soal-soal quiz dapat didisain agar pemberian skornya dilakukan secara otomatis oleh teknologi dan hasilnya terdokumentasi dalam bentuk daftar skor. Contoh lain, melalui fasilitas Google Share, dosen bisa langsung memberi masukan (feedbacks) terhadap tugas-tugas tertulis mahasiswa yang dibuat dalam format Google Docs.

VoE: Jadi, OL tidak hanya meningkatkan kesempatan bagi masyarakat dan memberikan waktu kuliah yang fleksibel, tapi juga memudahkan pekerjaan dan menghemat waktu guru/dosen?

PP: Sebenarnya masih ada ada berbagai manfaat lain. Misalnya, implementasi OL secara otomatis mengembangkan keterampilan siswa/mahasiswa menggunakan sarana teknologi yang akan menjadi gaya hidup di Abad 21 ini. Satu lagi manfaat yang paling penting adalah fakta bahwa sarana OL memberi kesempatan untuk meningkatkan keterlibatan siswa/mahasiswa dalam pembelajaran.

VoE: Wah…, jika OL bisa digunakan untuk meningkatkan keterlibatan siswa/mahasiswa, itu sangat luar biasa! Yang kami dengar, salah satu kendala utama dalam pembelajaran adalah minimnya partisipasi siswa/mahasiswa. Penyebabnya, siswa/mahasiswa merasa tidak tertarik atau bosan. Bapak bisa menjelaskan lebih rinci, bagaimana OL bisa digunakan untuk meningkatkan keterlibatan siswa/mahasiswa?

PP: Meningkatkan keterlibatan siswa/mahasiswa melalui OL dapat digambarkan dengan mudah dalam praktik Blended Learning (BL) yang dihubungkan dengan implementasi konsep taksonomi Bloom.

Menurut konsep Bloom, setiap proses pembelajaran merupakan aktivitas memproses informasi dengan menggunakan enam tingkat keterampilan berpikir, mulai dari level terrendah (paling mudah) hingga tertinggi (paling sulit), yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi.

Bloom's Tax“Mengingat” dan “memahami” merupakan keterampilan berpikir paling mudah. Dalam BL, mahasiswa difasilitasi untuk melakukannya secara mandiri. Sebagai contoh, dalam perkuliahan awal “Menulis Esei”, melalui kelas OL yang digunakan, dosen mengupload modul “Pengenalan Terhadap Esei”. Modul ini dapat dilengkapi dengan slide powerpoint atau video yang membantu mahasiswa menguasai (mengingat) materi tersebut secara mandiri melalui sesi perkuliahan online. Jangan lupa, internet menyediakan banyak sekali materi tentang “Pengenalan Terhadap Esei” yang dapat diakses mahasiswa untuk memperluas memperdalam pengetahuannya.

Masih secara online, mahasiswa kemudian diminta mengerjakan quiz atau latihan tertentu untuk melihat tingkat pemahamannya. Jika si mahasiswa belum mampu mencapai tingkat pemahaman yang dipersyaratkan, dia bisa mengulangi tahap menguasai (mengingat) lalu kemudian kembali mengerjakan quiz atau latihan.

Perkuliahan berikutnya dilakukan di kelas (tatap muka), dengan kegiatan diskusi kelompok yang dirancang agar mahasiswa menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya untuk mengidentifikasi ciri dan unsur-unsur esai. Perkuliahan berikut, masih dalam bentuk tatap muka, dapat berupa kerja kelompok yang dirancang untuk menganalisis dan mengevaluasi bagian-bagian dari beberapa contoh esei. Perkuliahan tatap muka berikutnya dilakukan berupa kerja kelompok untuk membuat (berkreasi) bagian-bagian esei sendiri, sesuai dengan hasil pembelajaran sebelumnya. Pada saat ini, dosen bertugas memberi masukan yang dibutuhkan setiap kelompok. Perkuliahan selanjutnya bisa dilakukan secara online, dan mahasiswa diminta membuat bagian-bagian esei secara mandiri. Setelah itu, baik dosen maupun sesama mahasiswa memberikan masukan (feedback) untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mandiri tersebut.

VoE: Luar biasa, Pak. Dengan pendekatan pembelajaran seperti itu, mahasiswa benar-benar terlibat dan mendayagunakan serta mengembangkan semua tingkatan keterampilan berpikirnya. Selain memahami konsep atau pengetahuan, mahasiswa juga mengembangkan kemahiran berkomunikasi dan bekerjasama melalui penugasan berkelompok. Bahkan mereka juga terampil berkreasi.

PP: Betul sekali! Selain ranah kognitif, pembelajaran online juga membuat ranah afektif dan psikomotorik mahasiswa berkembang. Mereka tidak hanya mengetahui konsep, tetapi juga mengembangkan semua tingkat keterampilan berpikir, keterampilan berkolaborasi, dan kemampuan berinovasi (berkreasi).

VoE: Jika manfaat penerapan OL begitu luar biasa, mengapa, ya, Pak, masih ada pihak tertentu yang beranggapan bahwa implementasi model pembelajaran ini hanya tindakat mengikuti arus, bahkan ada yang menyebutnya sekedar gagah-gagahan?

PP: Saya kira hal itu timbul karena kurangnya pemahaman. Penyebab lainnya bisa saja dilatarbelakangi oleh keengganan berubah, alias ketakutan meninggalkan zona nyaman. Padahal, jika dicermati, implementasi pembelajaran online itu merupakan kebutuhan, bukan sekedar ikut arus atau gagah-gagahan.

 

Sumber Gambar

Online Learning: https://www.icslearn.co.uk/blog/posts/2015/december/ new-year-new-challenges-study-online-in-2016/

Bloom’s Taxonomy: https://linkinglearningoutcomestoassessments. wordpress.com/bloomstaxonomy/

Teknologi akan Rampas Profesi Guru dan Dosen?

“Teknologi itu pendukung yang harus dimanfaatkan guru/dosen untuk meningkatkan efektivitas dan kualitas pekerjaan. Bagi guru/dosen, teknologi adalah sahabat, bukan pembabat.”

PP

[Jakarta, VoE of FKIP UKI] Menyambut Peringatan Hari  Pendidikan Nasional, 2 Mei 2018, Tim Redaksi VoE FKIP UKI memutuskan untuk mewawancarai beberapa sivitas akademika FKIP UKI dalam rangka menggali pemikiran dan ide-ide tentang paradigma pendidikan terkini. Hasil wawancara dengan Bapak Parlindungan Pardede, Dekan FKIP UKI, yang dilakukan selama hampir dua jam pada hari Senin, 30 April 2018, kami rangkum dalam tiga bagian. Tulisan ini adalah bagian pertama, yang berfokus pada peran teknologi di dunia pendidikan saat ini dan hubungannya dengan keberadaan guru/dosen. Bagian kedua, yang menyoroti online learning dan bagian ketiga membahas tentang fenomena banyaknya sarjana yang menganggur di Indonesia.

Redaksi VoE FKIP UKI (VoE): Kami melihat isu penggunaan teknologi merupakan salah satu aspek terhangat di dunia pendidikan saat ini. Bisa Bapak jelaskan, mengapa isu ini menyedot perhatian yang besar dari para pengambil kebijakan dan insan pendidikan?

Parlindungan Pardede (PP): Penggunaan teknologi di dunia pendidikan merupakan hal yang lumrah. Pulpen, whiteboard, proyektor, dan berbagai media yang kita temukan di kelas adalah produk teknologi. Sejak sekolah muncul, penggunaan teknologi terus ditingkatkan untuk memfasilitasi pembelajaran. Namun keterlibatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang terhubung dengan jaringan internet membuat berbagai pemangku kepentingan di dunia pendidikan tersentak. Mengapa? Karena TIK langsung dan segera menggantikan banyak unsur, metode dan proses dan aspek lainnya di sektor pendidikan. Akibatnya, tidak sedikit pemangku kepentingan pendidikan yang keteter, bahkan tertinggal jauh.

VoE: Bisakah Bapak gambarkan bagaimana teknologi telah menggantikan berbagai aspek pendidikan dengan sangat cepat?

PP: Satu hingga dua dekade yang lalu, kebanyakan guru dan dosen bertindak sebagai sumber utama pengetahuan. Oleh karena itu ceramah mereka wajib disimak dan dicatat. Sekarang, informasi dan pengetahuan di bidang apa saja, bahkan lebih mutakhir dari yang dimiliki guru dan dosen dapat diakses dengan cepat dan mudah dari internet. Sepuluh tahun lalu masih lazim bagi mahasiswa membawa ransel besar ke ruang kuliah. Ransel itu bisa berbobot 10 kilogram, dan isinya hanyalah berberapa buku teks tebal dan alat-alat tulis. Sekarang, sudah lazim jika mahasiswa hanya membawa laptop atau iPad. Pulpen, buku teks dan kertas mungkin relatif tidak diperlukan lagi. Ribuan buku teks dalam bentuk e-book dan PDF tersedia di dalam laptop. Catatan kuliah disimpan dalam bentuk soft-copy di laptop. Sebagian mahasiswa malah cukup memotret slide dengan handphone. Sepuluh tahun lalu, konsep-konsep, instruksi dan informasi lainnya disajikan hanya dalam bentuk tertulis. Sekarang, semua itu dapat dipelajari dalam bentuk video, animasi, gambar, atau infografis. Sepuluh tahun lalu, diskusi dan pembimbingan skripsi harus dilakukan melalui tatap muka. Sekarang, diskusi dan pembimbingan skripsi bisa dilakukan kapan saja dan dari mana saja secara online.

VoE: Wooow…! Ternyata banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa teknologi telah menggantikan banyak unsur dan praktik dalam dunia pendidikan. Jangan-jangan…, peran guru atau dosen juga akan digantikan oleh teknologi. Apakah itu akan terjadi?

PP: Pertanyaan itu sangat menarik dan krusial untuk dijawab. Teknologi memang tidak hanya mempengaruhi dan mengganti sarana, media, metode dan proses. Di berbagai jenis industri teknologi juga telah menggantikan banyak orang. Jutaan operator mesin di pabrik dan ribuan kasir di pintu-pintu tol adalah contoh contoh sederhana. Hasil penelitian PwC (2017) mengungkapkan di Inggris saja lebih dari 5,5 juta pekerja akan digantikan oleh teknologi dalam kurun waktu 15 tahun mendatang. Mereka terdiri dari 2,25 juta pekerja di bidang grosir dan eceran; 1,2 juta di bidang manufaktur, 1,1 juta di bidang layanan administrasi; dan 950.000 dalam transportasi dan penyimpanan barang. McKinsey & Company (2017) memprediksi 70 juta pekerja di Amerika akan digantikan oleh teknologi robot hingga tahun 2030. Jika teknologi bisa menggantikan orang di berbagai bidang pekerjaan, tentu tidak tertutup kemungkinan bahwa teknologi juga akan menggantikan orang yang bekerja di bidang pendidikan.

VoE: Bapak serius bahwa teknologi juga akan merampas profesi para pendidik?

PP: Menurut Radowitz (2017), seorang kepala sekolah berpengaruh di Inggris, Sir Anthony Sheldon, memprediksi bahwa  pendidik inspiratif di masa depan adalah mesin yang cerdas, bukan manusia. Pemimpin Wellington College itu percaya dalam waktu 10 tahun ke depan, revolusi teknologi akan menyingkirkan paradigma pendidikan sebelumnya.

Pertumbuhan pembelajaran online sering digunakan untuk mremperkust argumen bahwa teknologi akan menggantikan pendidik. Menurut WCET Distance Education Enrollment Report (2016), jumlah mahasiswa yang mengikuti kuliah online di AS meningkat dari 1,6 juta di tahun 2002 menjadi 5,8 juta di tahun 2014. U.S. News menyebutkan perguruan tinggi di AS yang menawarkan kuliah online sudah lebih dari 4.700. sedangkan jumlah mahasiswa yang mengikuti kuliah online sudah dari 6,3 juta, meningkat 5,6 persen dari tahun sebelumnya. Pembelajaran online juga sudah marak di jenjang sekolah dasar dan menengah. Pada tahun 2013-14, 75% dari semua sekolah di AS sudah menawarkan pembelajaran yang sepenuhnya online atau kombinasi online dan kelas konvensional (blended learning), dan 30 negara bagian sudah menyelenggarakan sekolah yang sepenuhnya online (Connections Academy).

VoE: Bagaimana dengan hasil pembelajarannya? Apakah hasil pembelajaran online bisa mengimbangi hasil pembelajaran di kelas konvensional bersama guru atau dosen?

PP: Perbandingan hasil diantara kedua bentuk pembelajaran itu sudah cukup banyak diteliti. Ringkasan berbagai hasil penelitian yang disajikan oleh OnlineEducation.com masih mengungkapkan temuan yang variatif. Sebagian penelitian menunjukkan hasil pembelajaran online setara dengan hasil pembelajaran konvensional. Tapi ada juga yang menunjukkan hasil pembelajaran online sedikit lebih tinggi dari pembelajaran konvensional. Dapat disimpulkan bahwa hasil pembelajaran online tidak kalah dengan hasil pembelajaran kelas konvensional.

VoE: Wah…, jika profesi pendidik ternyata tidak bebas dari ancaman akan digantikan oleh teknologi, bagaimana dong, masa depan para mahasiswa FKIP yang memang bercita-cita menjadi pendidik?

PP: Jangan langsung galau gitu dong. Kita cermati dulu fenomena itu. Sebenarnya teknologi yang digunakan dalam pembelajaran online itu hanyalah alat bantu. Secanggih apapun sebuah program pembelajaran online, dibelakangnya tetap ada pendidik yang memfasilitasi, mengarahkan, bahkan mengendalikan pembelajaran.

Teknologi memang hebat dalam pengarsipan dan penyajian informasi. Tapi mendidik tidak hanya sekedar menyampaikan pengetahuan atau informasi. Mendidik adalah menyampaikan dan sekaligus memanfaatkan pengetahuan sebagai sarana mengembangkan otot, otak, dan watak (di dalamnya termasuk keterampilan hidup,  sikap, dan nilai (values) peserta didik. Mendidik juga melibatkan pemberian inspirasi dan empati kepada peserta didik. Ketika siswa kurang bersemangat,  guru perlu memotivasi. Melalui gerak gerik dan ekspresi wajah peserta didiknya, guru atau dosen bisa memahami kondisi psikis dan psikologis mereka, dan sekaligus memutuskan dukungan apa yang perlu diberikan. Mendidik adalah pemberdayaan melalui pemanfaatan berbagai alat bantu dan sentuhan kemanusiaan, dan hanya guru atau dosen yang bisa melakukannya.

VoE: Maksud Bapak, guru atau dosen memiliki berbagai kompetensi yang tidak mungkin dimiliki oleh teknologi hingga teknologi tidak mungkin merampas profesi guru dan dosen?

PP: Tepat sekali!  Dulu, ketika kalkulator–dengan kemampuan operasional matematika yang luar biasa–baru ditemukan, ada yang khawatir guru matematika akan tersingkir. Ternyata kekhawatiran itu tidak terbukti. Hingga kapanpun, yang bisa menggantikan seorang guru/dosen hanya guru/dosen lainnya, bukan teknologi. Teknologi hanyalah alat bantu. Tapi, karena pemanfaatannya dalam pendidikan saat ini tidak mungkin dielakkan, maka guru atau dosen yang tidak dapat memanfaatkan teknologi untuk mendukung tugasnya akan tersingkir. Sebaliknya, yang kompeten memanfaatkan teknologi akan terus maju dan berkembang. Ray Clifford (1983) menegaskan, “Technology will not replace teachers, but teachers who do not use technology will be replaced.” Singkatnya, pendidik yang unggul di Abad-21 adalah mereka yang menguasai didiplin ilmu tertentu dan sekaligus–meminjam istilah Naisbit–“high tech” (mahir menggunakan teknologi terkini) dan “high touch” (memiliki sentuhan kemanusiaan).

VoE: Kalau begitu, para pendidik atau calon pendidik tidak perlu cemas terhadap teknologi, ya, Pak.

PP:  Sama sekali tidak perlu. Sahabat saya yang gemar berbahasa betawi bilang, “Profesi pendidik itu kagak ade matinye!” Tidak ada yang bisa menyingkirkan seorang pendidik, kecuali keengganannya untuk terus mengembangkan diri, termasuk menguasai teknologi. Bagi guru/dosen, teknologi adalah sahabat, bukan pembabat.

VoE: Apakah semua mahasiswa di FKIP UKI dibimbing dan difasilitasi menjadi pendidik yang mampu menjadikan teknologi sebagai pendukung?

PP:  Ya, doooong! FKIP UKI hadir memang untuk tujuan itu.
OL

 

Sumber Gambar:

Why Online Learning is fun

Silahkan baca hasil wawancara bagian 2, yakni:Online Learning: Untuk Gagah-Gagahan, atau Karena Kebutuhan?”

Silahkan baca hasil wawancara bagian 3 yang diberi judul Mengapa lebih dari 600 ribu Sarjana Menganggur?

 

 

 

 

 

Seminar Online Via WhatsApp: Teknik Pembelajaran Inovatif oleh HMPS Pendidikan Kimia FKIP UKI

Di tangan orang yang kreatif dan inovatif, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) membuat banyak hal yang tadinya kelihatan tidak mungkin menjadi mungkin, termasuk dalam pembelajaran. HMPS Pendidikan Kimia FKIP UKI membuktikannya. Aplikasi WhatsApp yang biasa digunakan untuk chatting ini dimanfaatkan sebagai media seminar online.

Sol3“Seminar online berbasis WhatsApp telah kami masukkan sebagai salah satu program kerja kami tahun ini,” yang cetus Lusi Nuriati Sitorus, Ketua Bidang Ilmu dan Penalaran HMPS Pendidikan Kimia FKIP UKI. “Media sosial lainnya juga bisa dimanfaatkan untuk seminar online. Kami memilih WhatsApp karena semua mahasiswa di prodi kami akrab dengan aplikasi ini. Dengan modal waktu dan paket data, seluruh mahasiswa di prodi kami dapat mengikuti seminar dari mana saja,” papar Lusi.

“Prodi Pendidikan Kimia FKIP UKI mendukung program seminar online berbasis WhatsApp ini,” kata Pembina HMPS Ibu Leony Sanga Lamsari M.Pd. “Media yang lazim digunakan untuk komunikasi sehari-hari itu, oleh mahasiswa kami dijadikan sebagai fasilitas pembelajaran. Walaupun program itu masih merupakan sebuah eksperimen, tidak mustahil mereka nantinya bisa menemukan pola yang efektif untuk berseminar dengan WhatsApp. Toh, berbagai inovasi dihasilkan melalui pengalaman, bukan?” papar Bu Leony.

Menurut Lusi seminar online tersebut sudah mereka lakukan bebrapa kali sejak awal November 2017. Karena kegiatan itu diikuti oleh mahasiswa seluruh angkatan dan dosen, topik yang diseminarkan dipilih yang bersifat umum bagi semua peserta. Setiap sesi seminar yang berdurasi 90 menit itu difasilitasi oleh seorang narasumber yang dibantu oleh seorang moderator dan dua notulis. Karena narasumber dipilih dari dari kalangan mahasiswa, tentu saja dia harus membuat persiapan matang terlebih dahulu. Beberapa topik yang sudah diseminarkan, antara lain, “Program Pengalaman Lapangan” (narasumber: Marimar Santi Banes), “Tips dan Trik Karya Tulis Versi Kak Agelin” (narasumber: Agelin Kristin), dan “Kunyit Sebagai Indikator Alami Pendeteksi Boraks pada Bakso” (narasumber: Reinensi Iin Purba).

“Ternyata seminar online ini cukup efektif untuk memperluas pengetahuan. Dengan kreativitas, banyak kemungkinan pembelajaran inovatif yang bisa kita lakukan dengan menggunakan teknologi,” ujar Lusi mengakhiri penjelasannya.

Merayakan Dies Natalis Pertama, Prodi Pendidikan Fisika Gelar “Physics Fun Week”

Jakarta, VoE FKIP UKI. Dalam rangka merayakan  Dies Natalis Pertama-nya, selama seminggu, Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UKI menyelenggarakan serangkaian kegiatan bernuansa Fisika. Selain diskusi antar sivitas akademika dan ibadah pengucapan syukur, dua kegiatan utama dari kegiatan berjudul Physics Fun Week itu adalah Lomba Cerdas Cermat Fisika Tingkat SMA Se-Jabodetabek dan Seminar Nasional bertajuk “Peran Sains dan Pendidikan Fisika dalam Menghadapi MEA”.

Fisika 1Seminar nasional yang diselenggarakan pada hari Rabu, 18 Mei 2016 di Ruang Seminar Lt.3, Kampus UKI, Cawang itu bertujuan membangkitkan minat anak bangsa untuk menggemari dan turut ambil bagian dalam perkembangan sains yang diperlukan untuk memajukan bangsa dan Negara. Topik-topik yang disajikan menguraikan sisi-sisi penting dan menarik dari fisika yang dibutuhkan untuk menyambut, mempersiapkan, dan mengembangkan potensi diri dalam menghadapi era kompetisi global, khususnya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Dihadapan audiens yang terdiri dari siswa dan guru-guru dari berbagai SMA di Jakarta, mahasiswa, dosen, serta peserta umum, Manogari Sianturi, S.Si., M.T., Kaprodi Pendidikan Fisika FKIP UKI dalam sambutannya menekankan pentingnya bangsa Indonesia meningkatkan daya saing untuk menghadapi MEA. Sehubungan dengan itu, walau usianya baru setahun, Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UKI berupaya memberi kontribusi dan dorongan semangat kepada bangsa Indonesia untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Sesi pertama seminar, yang dimoderatori oleh Samuel Gideon, M.Si. menampilkan dua narasumber. Manogari Sianturi, S.Si., M.T. menyajikan topik tentang Program Studi Pendidikan Fisika UKI dan Posisi Indonesia di dunia dan ASEAN.  Narasumber kedua, Dr. Isnaeni, M.Sc. dari Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyoroti topik Sains dan MEA. Dr. Isnaeni menekankan bahwa Indonesia masih terpuruk di bidang Matematika dan Sains. Akibatnya, Indonesia tidak dapat bersaing di bidang pengembangan teknologi hingga bangsa ini masih tergantung pada impor dan memiliki angka pengangguran yang tinggi.

Sesi kedua, yang menampilkan Dr. Ida Kaniawati (Universitas Pendidikan Indonesia Bandung) dan Dr. Muhammad Nur, DEA (Ahli Fisika Plasma) juga berlangsung sangat menarik.  Dr. Ida Kaniawati memaparkan materi tentang Peran Pendidikan Fisika dalam menghadapi MEA. Dr. Muhammad Nur, memberi pencerahan tentang “Berenterpreneur di era MEA”. Saking menariknya topik-topik yang disajikan, para peserta sangat antusias mengajukan pertanyaan maupun memberi pendapat kepada para narasumber.

Fisika-2Seusai seminar, acara dilanjutkan dengan Final Lomba Cerdas Cermat. “Babak penyisihan dan semi final lomba itu sendiri sudah diselenggarakan sejak beberapa hari sebelumnya. Babak final sengaja dilakukan setelah seminar karena hari itu merupakan puncak perayaan Dies Natalis Pertama kami,” terang Pak Kaprodi, Manogari Sianturi.

Berdasarkan penilaian para juri, para pemenang Lomba Cerdas Cermat Fisika Tingkat SMA se-Jabodetabek tersebut adalah sebagai berikut. SMA 53 Jakarta meraih Juara 1; SMA ST. Bellarminus Jakarta, Juara 2; dan SMA PSKD 7 Depok, Juara 3. Selamat kepada para pemenang!