Bermetamorfosa Melalui Prodi Pendidikan Kimia UKI

Vironi1

Sejak SMA kelas 12 saya senang memperhatikan seseorang yang sedang bekerja di laboratorium. Bayangan seseorang dengan Jubah putih panjang dengan masker dan sarung tangan yang sedang memegang beaker glass dan pipet tetes selalu terngiang di khayalanku. Demi mewujudkan impian itu saya mengikuti seleksi penerimaan calon mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Mulai dari SNMPTN sampai UM semua telah di lalui. Namun, Tuhan berkehendak lain, mulai dari SNMPTN hingga UM saya tidak bisa lulus seleksi. Sedih?? … ya … marah?? … pasti … kecewa?? … sangat. Itulah yang saya rasakan pada saat itu.

Terus terang, awalnya saya tidak tahu kalau di Universitas Kristen Indonesia ada Prodi Pendidikan Kimia. Saya tahu jurusan ini dari informasi yang di berikan oleh saudara saya. Singkat cerita saya resmi menjadi mahasiswa baru prodi pendidikan kimia. Walau masih terbilang prodi baru, semangat kami sebagai mahasiswa/i prodi pendidikan kimia untuk berkarya dan berinovasi masih membara. Selain proses pembelajaran di dalam ruangan (lab. Kimia dasar, lab. Biokimia dan ruang kelas) kami juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menambah kemampuan softskill seperti studi lapangan ke LIPI , kuliah umum, kunjungan ilmiah ke IPB Bogor, roadshow ke beberapa SMA, mengikuti event pendidikan kimia di universitas lainnya dan yang lebih kerennya lagi prodi kami juga berhasil lolos PKM-Penelitian.

Pada suatu hari salah satu dosen kami memberi pengumuman akan dilaksanakannya ONMIPA di Yogyakarta dan akan di seleksi siapa yang akan menjadi perwakilan UKI ke Yogya. Hari pengumuman seleksi pun tiba. Tak disangka, saya terpilih sebagai perwakilan UKI untuk mengikuti ONMIPA bidang kimia bersama teman dan senior lainnya. Walaupun belum berhasil, kami tidak patah semangat. Bu Elferida selaku dosen pembimbing tetap memotivasi kami. Ditambah lagi dengan dukungan dari bu Familia yang mengatakan “…. kalian itu sudah hebat loh…. “. Ini kan yang pertama kita ikut dalam lomba ini. Kalau sudah berpengalaman, pasti hasilnya berbeda…”

Walaupun saya dan teman-teman belum berhasil jadi juara ketika itu, saya tetap percaya kalau pengalaman adalah guru terbaik sepanjang masa dan tanpa kegagalan kita tidak akan pernah bisa berproses. Mulai dari situlah saya mulai mengikuti berbagai macam perlombaan yang ada. Menang atau kalah urusan belakangan yang penting saya sudah berusaha maksimal. Beberapa lomba mulai saya ikuti dengan bantuan bimbingan dan motivasi dari dosen prodi kimia. Mulai dari lomba di tingkat universitas hingga tingkat nasional saya ikuti.

Vironi3Lomba tingkat universitas yang pernah saya ikuti seperti olimpiade mini bidang Kimia sebagai juara 1 dan lomba debat antar fakultas UKI. Sedangkan, pada lomba tingkat nasional yang saya ikuti berupa lomba essay dan ONMIPA bidang kimia di Yogyakarta. Bukan itu saja, saya juga berhasil mendapatkan piagam penghargaan dari PPSSHB (Punguan Pomparan Situmorang Suhut nihuta dohot Boruna) sebagai mahasiswa berprestasi.

Hal yang membuat saya bangga adalah ketika pembacaan mahasiswa berprestasi dari PPSSHB. Saya bisa berdiri tegak dengan almamater biru dan sejajar dengan mahasiswa berprestasi lain, termasuk dari PTN (UNJ, UI, dll) . Dengan cara ini minimal saya dapat mengenalkan Prodi Kendidikan Kimia FKIP UKI.

Semua ini tidak bisa kami capai tanpa bantuan dosen dosen kami yang luar biasa. Waktu, motivasi, dan dukungan diberikan secara cuma-cuma demi keberhasilan setiap mahasiswa/i nya. Saya tidak akan lupa setiap ciri khas “cara mendidik” dosen prodi pendidikan kimia yang mampu membuat saya bermetamorfosa (metamorfosa = perubahan/pembaharuan). Ibu Sumi yang selalu mendukung, Ibu Elferida yang sangat menjunjung tinggi attitude, Ibu Nova dengan nasihatnya “kalau kamu memperlakukan seseorang dengan seperti itu, coba balikkan ke diri sendiri apakah mau diperlakukan seperti itu?? Ibu Familia sebagai teman curhat tugas dan permasalahan, Ibu Siti dengan kedisiplinan terhadap waktu, Ibu Leony dengan cara mengajarnya yang unik, hingga Pak Nelius dengan cerita inspiratifnya di masa kuliah beliau. Berkat jasa merekalah saya bisa sampai seperti ini. Saya akan berusaha bermetamorfosa dengan sempurna karena kesuksesan tidak dilihat dari hasil akhirnya tetapi melalui prosesnya.

Vironi2

Tulisan ini disertakan dalam  Lomba Menulis Konten VoE FKIP UKI 2018.


Identitas Penulis:

Vironi Tio Lasminar

Pendidikan Kimia

Angkatan 2016


 

Kuliah di Pendidikan Biologi FKIP UKI: Semakin Dijalani Semakin Kena di Hati

Sulastri

Bagi banyak orang, Biologi itu pelajaran yang sangat membosankan. Mengapa? Karena pembelajaran Biologi dianggap hanya berkutat denga istilah-istilah Latin yang sangat susah dihafal. Dulu saya juga beranggapan seperti itu. Makanya saya tidak pernah tertarik, apalagi serius mempelajarinya.

Pandangan saya mulai berubah ketika guru Biologi saya di SMA menunjukkan tidak selamanya Biologi itu membosankan. Karena mulai tertarik mempelajari Biologi, begitu lulus SMA tahun 2015, saya mendaftarkan diri di Universitas Kristen Indonesia untuk kuliah Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Sambil terus berupaya menyesuaikan diri dengan cara belajar di perguruan tinggi yang beda banget dengan di SMA, minat saya mempelajari Biologi semakin tumbuh. Pembelajaran yang  memadukan teori dan praktik, belajar di kelas dan di laboratorium dan lapangan, serta aktivitas-aktivitas yang mengembangkan tidak hanya aspek kognisi tetapi juga afeksi dan motoric membuat Biologi begitu menarik dan menantang. Rasa ingin tahu yang terus bertambah membuat saya tidak pernah bosan sedikitpun dalam pembelajaran.

Dalam 6 semester yang sudah saya tempuh di Prodi Pendidikan Biologi hingga saat ini, banyak pengalaman menarik dan bermanfaat yang saya dapatkan. Untuk mengkonfirmasi teori dan konsep yang dipelajari di kelas, di prodi ini mahasiswa diminta melakukan berbagai aktivitas, seperti studi lapangan,  praktikum di laboratorium, dan pengabdian kepada masyarakat, Salah satu studi lapangan yang saya ikuti dilaksanakan di Pulau Harapan, Kepulauan Seribu. Di tempat itu kami mengobservasi penangkaran penyu, pertumbuhan berbagai jenis mangrove dan biota laut lainnya. Selain mengkonfirmasi teori yang sudah saya pelajarai, kuliah lapangan ini secara tidak langsung mengajarkan saya untuk mencintai alam sekitar.

Sulastri 2Laboratorium yang digunakan mahasiswa di Prodi Pendidikan Biologi FKIP UKI terbagi dua, yaitu Lab. Basah dan Lab. Kering. Lab Basah digunakan untuk praktikum yang menggunakan bahan bahan basah, seperti alkohol, metanol, methylen blue, aquades, dan sebagainya. Sedangkan Lab Kering digunakan hanya untuk mempelajari mikroorganisme atau sel tumbuhan dan hewan dengan menggunakan mikroskop. Di Lab Kering terdapat sebuah TV yang digunakan untuk presentasi dan dapat disambungkan ke mikroskop guna melihat objek yang ada di mikroskop sehingga mudah dilihat dan diamati.

Selain itu, Prodi Pendidikan Biologi FKIP UKI juga memiliki greenhouse, fasilitas untuk meneliti pertumbuhan tanaman dengan kondisi lingkungan yang direkayasa.  Sebagai contoh, saat ini saya sedang meneliti pertumbuhan melon (Cucumis melo L.) terhadap konsentrasi pupuk KCl yang berbeda di fasilitas itu. Di sekitar greenhouse terdapat lahan yang cukup luas untuk mengembangbiakkan tanaman. Di lahan itu kami menanam sayuran, tumbuhan obat, bunga, dan lain-lain. Pada hari Jumat, 13 Juli 2018 yang lalu kami melakukan panen sayur Pokchoy bersama dengan Dekan, Wakil Dekan, Kaprodi, Dosen-dosen FKIP dan juga mahasiswa Biologi di greenhouse. Selain itu, di belakang greenhouse juga terdapat tempat menernakkan lele.

Yang tak kalah pentingnya adalah kesempatan mengikuti berbagai lomba yang relevan dengan bidang ilmu yang kami pelajari. Di tahun 2017, saya mengikuti Olimpiade MIPA di Yogyakarta. Kegiatan tersebut berlangsung selama 4 hari, selain mengikuti olimpiade saya dan peserta lainnya diajak keliling kota Yogyakarta.  Saya sangat bersyukur karena kegiatan ini menambah wawasan keilmuan maupun wawasan geografis saya. Keikutsertaan dalam even ini membuat saya dapat menginjakkan kaki di Candi Borobudur dan Candi Prambanan, yang merupakan tempat wisata yang bersejarah di Indonesia.

Jadi, selama kuliah di Prodi Pendidikan Biologi FKIP UKI saya sangat menikmati berbagai kegiatan yang dilakukan. Tidak ada rasa bosan selama saya mengikuti berbagai kegiatan kuliah, praktikum, kuliah lapangan, lomba, dan sebagainya. Untuk berinteraksi di lingkungan UKI pun sangat mudah, karena sivitass akademika UKI, khususnya warga Prodi Pendidikan Biologi tidak memandang asal-usul, miskin dan kaya, cantik dan jelek, semua orang sama dan saya tidak pernah merasa terkucilkan karena berasal dari desa. Dosen-dosennya pun sangat ramah dan selalu siap memberikan bimbingan. Kapanpun saya ingin bertanya, mereka selalu siap memberikan waktu, dimbingan dan arahan. Inilah yang membuat saya semakin lama semakin menikmati kuliah di Prodi Pendidikan Biologi FKIP UKI sampai saat ini dan hingga saya lulus nanti.

Pakcoy

Tulisan ini disertakan dalam  Lomba Menulis Konten VoE FKIP UKI 2018.


Identitas Penulis:

Sulastri Rina Br Munthe (1515150008)

Program Studi Pendidikan Biologi

Angkatan 2015

 

Panen Pakcoy di “Greenhouse” Pendidikan Biologi FKIP UKI

[VoE FKIP UKI] Jumat, 13 Juli 2017 terlihat suasana ramai di lokasi greenhouse Pendidikan Biologi FKIP UKI. Sore itu dilaksanakan acara panen sayur pakcoy di kebun laboratorium Botani yang terletak bersebelahan dengan lapangan basket UKI, Kampus UKI Cawang, Jakarta Timur itu.

Pakcoy 1“Sayur pakcoy yang akan kita panen ini dikembangkan dari bibit yang dihasilkan dari penelitian sekelompok mahasiswa di semester ini. Penelitian itu fokus pada pembibitan. Namun bibit yang dihasilkan kemudian ditanam di lahan yang tersedia di luar greenhouse ini,” ujar Dr. Sunarto, M.Hum., Kaprodi Pendidikan Biologi FKIP UKI.

“Selain untuk kegiatan penelitian di bidang Botani, ke depan kita juga akan memanfaatkan lahan di sekitar greenhouse ini untuk praktik entrepreneurship. Jadi, selain meneliti, mahasiswa juga kita dorong mengembangkan kewirausahaan di bidang agrobisnis,” Pak Sunarto menambahkan.

Bapak Laurensius, M.Pd., Kepala Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP UKI menjelaskan, “Lahan yang kita miliki ini sekitar 200 meter persegi. Yang terpakai untuk green house hanya 50 meter persegi. Jadi masih cukup luas lahan yang dapat dimanfaatkan. Di belakang greenhouse kami tempatkan kolam pemeliharaan lele yang bulan depan akan kita panen. Lahan di bagian kiri, kanan dan depan green house ini kita manfaatkan untuk membudidayakan berbagai tanaman. Saat ini yang cukup banyak kita tanam adalah sayur pakcoy yang kita panen sekarang ini”.

Dalam sambutannya, Dekan FKIP UKI, Parlindungan Pardede, M.Hum. menyambut baik rencana pengembangan greenhouse tersebut dan lahan sekitarnya secara kreatif.

Pakcoy2“Perlu dipikirkan bagaimana membuat fasilitas ini memiliki multi fungsi. Selain sebagai laboratorium penelitian dan pembudidayaan tanaman untuk praktik kewirausahaan, fasilitas ini dapat kita buat menjadi sebuah taman yang indah. Tembok-tembok pembatas yang mengelilingi fasilitas ini saya usulkan dibuat menjadi tempat menggantungkan tanaman-tanaman yang dapat dibudidayakan di pot pot gantung. Saya yakin para alumni yang turut hadir saat ini bersedia membantu,” papar Pak Dekan.

Acara panen dimulai dengan mendaulat Pak Dekan mencabut sebatang sayur pakcoy. Pada kesempatan berikut, Wakil dekan FKIP, Kerdid Simbolon, M.Pd. diminta melakukan hal yang sama. Setelah itu beberapa dosen dan alumni yang hadir memperoleh giliran mencabut pakcoy. Para mahasiswa kemudian turut serta menyelesaikan acara panen tersebut. Hasil panen kemudian dibagi-bagi kepada dosen, alumni dan mahasiswa yang turut serta dalam acara panen itu.

pakcoy3.jpg

Transformasi Hidup Kelam Menjadi Cerah di Prodi Pendidikan Biologi FKIP UKI

1.

Selama di SMA saya sangat senang pada Biologi dan bertekad untuk menggeluti bidang ini setelah lulus dari SMA. Untuk mewujudkannya, saya habis-habisan mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru program studi Biologi di PTN yang saya idamkan. Semua jalur penerimaan yang tersedia saya ikuti, namun ternyata rejeki saya bukan di PTN itu.

Tidak berjodohnya saya untuk kuliah di PTN membuat saya galau berat. Langit seolah-olah runtuh. Cita-cita saya seolah-olah pupus. Hidup terlihat kelam. Untunglah seorang kerabat menganjurkan saya mencoba mendaftar ke sebuah PTS yang terletak di Cawang, yang juga membuka program studi Biologi. Saya bergegas berselancar di website untuk mengetahui  informasi lebih detil. Ternyata saat itu sedang berlangsung pendaftaran gelombang terakhir. Setelah berdiskusi dengan orangtua, saya memutuskan untuk mendaftar ke Prodi Pendidikan Biologi FKIP UKI. Horee…..! Saya lulus tes saringan masuk dan segera menyelesaikan semua persyaratan administratif.

Sekarang saya sudah di semester 6. Banyak hal yang mengesankan bagi saya selama ini. Dibimbing oleh dosen-dosen yang ramah, berdedikasi, kompeten dan inspiratif, saya tidak  hanya dipacu untuk menguasai bidang Biologi dan Kependidikan. Berbagai program lomba, pelatihan, seminar dan diskusi juga memfasilitasi dan melatih kami mahasiswa untuk berpikir kritis, berpikir kreatif, berpikir positif, berkomunikasi dan berkolaborasi.

2. Tim ONMIPABagi saya, kuliah di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UKI itu memberikan pengalaman luar biasa. Belajar di FKIP ini tidak hanya dilakukan di ruang kuliah saja. Berbagai kegiatan kuliah lapangan di berbagai cagar alam, praktik di laboratorium dan Green House, observasi di sekolah-sekolah, keikutsertaan dalam berbagai lomba ilmiah dan aktivitas Pengabdian kepada Masyarakat di berbagai lokasi membuat mahasiswa mampu menghubungkan konsep dengan realita serta termotivasi mengembangkan potensi diri secara optimal.

Selain mengikuti perkuliahan dan berbagai seminar secara teratur, saya terlibat dalam lomba Olimpiade nasional MIPA (ON-MIPA)Tingkat DKI Jakarta 2018, ON-MIPA Tingkat Jabodetabek dan Banten Tahun 2017 dan ON-MIPA Tingkat Nasional Tahun 2017 di Yogyakarta. Saya berpartisipasi sebagai panitia beberapa lomba yang dilaksanakan untuk siswa SMA. Saya juga sangat menikmati kuliah lapangan di Cagar Alam Pangandaran 2017 dan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu 2018. Selain itu, saya juga aktif di organisasi kemahasiswaan tingkat program studi, HMPS Pendidikan Biologi. Dilihat sepintas, mengikuti seabrek aktivitas itu akan terkesan melelahkan. Tapi saya tidak pernah merasa lelah, karena dibimbing oleh dosen-dosen yang berdedikasi dan bersahabat. Selain itu, kerjasama tim dan suasana menyenangkan yang kami ciptakan dalam setiap kegiatan membuat semua program dapat dijalani dengan penuh keceriaan. Singkat kata, saya menjalani real joyful and inspirational learning. Tak diragukan lagi, mahasiswa yang menjalani semua kegiatan pembelajaran itu dipastikan akan menjadi lulusan unggul.

3. OMIPA YogyaSebagai lulusan unggul (yang menguasai bidang studinya, memiliki keterampilan berkomunikasi; berpikir positif, kritis dan kreatif; mampu berkolaborasi, bersikap jujur gigih dan pantang menyerah) yang dibimbing oleh dosen-dosen profesional, bersahabat dan memberi teladan, saya yakin alumni Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UKI akan menjadi pendidik yang mampu berkontribusi besar terhadap bangsa dan negara. Alumni program studi ini akan benar-benar mampu merealisasikan visi Ki Hadjar Dewantoro, “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.

Setelah enam semester mengalami pengembangan kognisi, motoris, afeksi, berpartisipasi dalam berbagai aktivitas peningkatan keterampilan berpikir, berkomunikasi, berkolaborasi dan keterampilan hidup lainnya di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UKI, sekarang saya dipenuhi optimisme. Kekelaman yang menyelimuti hidup saya setelah lulus SMA telah berubah menjadi cerah. Sekarang saya menatap masa depan yang penuh harapan. Terima kasih FKIP UKI.

4-e1531546594357.jpg

Tulisan ini disertakan dalam  Lomba Menulis Konten VoE FKIP UKI 2018.


Identitas Penulis:

Rita Maghdalena Situmorang (1515150011)

Program Studi Pendidikan Biologi

Angkatan 2015


 

Akademisi Indonesia belum Beri Perhatian terhadap Pengembangan Kemahiran Membaca

“School made us ‘literate’ but did not teach us to read for pleasure.” (Ambeth R. Ocampo)

[Jakarta, VoE FKIP UKI] Tak diragukan lagi, Extensive Reading sangat efektif untuk mensukseskan pembelajaran Bahasa kedua atau Bahasa asing, termasuk Bahasa Inggris. Jika diimplementasikan dengan baik, Extensive Reading memperkaya kosa kata, meningkatkan pemahaman serta kecepatan membaca, mengembangkan kemahiran menulis, membangun kepercayaan diri, motivasi, dan sikap positif siswa. Pengalaman dan penelitian di berbagai belahan dunia sudah membuktikannya. Namun sangat disayangkan pengembangan kemahiran dan kesukaan membaca masih belum memperoleh perhatian para akademisi atau peneliti di nusantara.

1. ER SPernyataan ini diungkapkan oleh Saniago Dakhi dalam simposium internasional bertajuk The Power of Extensive Reading di Ruang video Conference, Kampus UKI Cawang, Jakarta Timur. Dalam simposium diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP-UKI bekerjasama dengan Extensive Reading Foundation (ERF) dan The Indonesian Extensive Reading Association (IERA) pada hari Jumat, 6 Juni 2018 itu, Saniago Dakhi, dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI yang akrab dipanggil Pak Sani itu tampil sebagai salah satu dari enam narasumber yang dihadirkan panitia.

2. ERs

Hasil survei Central Connecticut State University tahun 2016 menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan minat baca terendah kedua dari 61 negara yang diteliti. Indonesia hanya setingkat lebih baik dari Botswana. Thailand yang menduduki peringkat ke-59, setingkat lebih baik dari Indonesia.

Ternyata kondisi itu belum menggugah perhatian akademisi dan peneliti di Indonesia. Hasil analisis Pak Sani terhadap konten artikel-artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah nasional terakreditasi bidang pengajaran Bahasa Inggris menunjukkan bahwa dari ratusan artikel yang dipublikasikan dalam enam jurnal terakreditasi nasional yang terbit selama 5 tahun terakhir, terdapat hanya 9 (2,12%)  artikel tentang “reading”, dan tak satupun artikel yang menyoroti Extensive Reading.

“Temuan ini menunjukkan betapa kurangnya perhatian terhadap pengembangan kemahiran membaca, khususnya ‘Extensive Reading’,” tandas Pak Sani. “Hal ini tentu saja menjadi tantangan bagi akademisi dan peneliti bidang pengajaran bahasa di negara kita. Untuk membantu para praktisi pendidikan menyelenggarakan Extensive Reading, masukan-masukan dari peneltian empiris sangat diperlukan,” ujar Pak Sani mengakhiri presentasinya.

3. ER sani

Slides presentasi Pak Sani bisa didownload dari https://www.researchgate.net/publication/326252384_CURRENT_TREND_IN_ENGLISH_READING_TEACHING_A_REVIEW_IN_INDONESIA_CONTEXT

 

Teknologi sebagai Alternatif untuk Menjawab Tantangan Penerapan “Extensive Reading”

“Books are no more threatened by Kindle than stairs by elevators.” (Stephen Fry)

[Jakarta, VoE FKIP UKI] Berbagai hasil penelitian dan pengalaman membuktikan bahwa Extensive Reading yang diimplementasikan dengan baik sangat efektif untuk mendukung keberhasilan pembelajaran Bahasa kedua atau Bahasa asing. Selain memperkaya kosa kata, meningkatkan kecepatan serta pemahaman membaca dan mengembangkan kemahiran menulis, Extensive Reading juga membangun sikap positif, kepercayaan diri dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu, Extensive Reading sangat baik dan perlu diimplementasikan.

ER-PP2Paparan itu diungkapkan oleh Parlindungan Pardede ketika memulai presentasinya dalam Simposium bertajuk “The Power of Extensive Reading” yang diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP-UKI pada hari Jumat, 6 Juni 2018 di Ruang video Conference, Kampus UKI Cawang, Jakarta Timur. dengan menghadirkan Dr. Rob Waring (salah seorang Direktur Eksekutif ERF), Dr. Willy A. Renandya (juga salah seorang Direktur Eksekutif ERF) dan Yusefa Iswandari (Presiden IERA) sebagai narasumber tamu.

Parlindungan Pardede, yang saat ini dipercaya sebagai Dekan FKIP-UKI memaparkan bahwa tiap  siswa harus membaca buku, artikel, atau bahan lainnya sebanyak 200,000 kata atau lebih dalam setahun agar untuk memperoleh  manfaat yang ditawarkan Extensive Reading. Teks sebanyak itu tidak mencakup buku-buku teks yang diwajibkan dalam pembelajaran atau perkuliahan, karena Extensive Reading dilakukan di luar kelas.

“Diperlukan berbagai tipe dan tingkat kesulitan bacaan untu memfasilitasi Extensive Reading  sebuah kelas yang mungkin terdiri dari 25 hingga 30 siswa. Karena membutuhkan biaya yang besar, hal ini seringkali menjadi kendala, Selain itu, untuk memastikan bahwa semua siswa benar-benar membaca dan membantu mereka yang menemukan kesulitan membaca bukanlah tugas yang mudah bagi guru,  karena Extensive Reading dilakukan di luar jam pembelajaran di kelas. Yang tak kalah penting adalah kenyataan bahwa siswa saat ini tidak hanya membaca teks cetak tetapi juga teks dijital. Oleh karena itu, Online Extensive Reading (OER) atau Extensive Reading berbasis teknologi informasi dan komunikasi perlu dimanfaatkan sebagai alternatif,” papar Pak Dekan yang akrab dipanggil pak Parlin ini.

“Terdapat dua pilihan yang bisa kita ambil untuk menyelenggarakan OER. Pertama, kita bisa menggunakan perpustakaan virtual yang menyediakan bahan bacaan bertingkat (graded reading) dan sistem manajemen pembelajaran atau Learning Management System (LMS) seperti Xreading. Setelah mendaftar dan membayar sebagai pengguna perpustakaan virtual itu, melalui komputer, laptop atau hand phone, setiap siswa memiliki akses untuk membaca dan mengerjakan kuis atau menuliskan respon. Kedua, kita dapat membuat perpustakaan virtual sendiri dengan cara mengumpulan link-link bahan bacaan dalam sebuah web yang kita miliki untuk diakses oleh siswa kita. Lalu pada halaman lain kita bisa menyiapkan tempat bagi siswa untuk mengerjakan kuis atau menuliskan respon, seperti yang dilakukan oleh Pino-Silva,” imbuh Pak Parlin.

Sesi presentasinya diakhiri oleh Pak Parlin dengan memaparkan beberapa hasil penelitian yang relevan dengan pemanfaatan perpustakaan virtual untuk  Extensive Reading, baik perpustakaan virtual berbayar yang telah tersedia di internet maupun yang dibuat sendiri oleh guru.

“Yang jelas, kita harus selalu berupaya menggunakan kreativitas dan bantuan teknologi untuk mengatasi kendala-kendala yang muncul dalam setiap pembelajaran bagi generasi muda yang kita didik”, tegas Pak Parlin mengakhiri presentasinya.

ER-PP1

File presentasi Pak Parlin bisa didownload dari:

https://parlindunganpardede.wordpress.com/2018/07/02/online-extensive-reading/

Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI Gelar Simposium Internasional

“It is not enough to simply teach children to read; we have to give them something worth reading. Something that will stretch their imaginations—something that will help them make sense of their own lives and encourage them to reach out toward people whose lives are quite different from their own.” (Katherine Patterson)

[Jakarta, VoE FKIP UKI] “Selamat datang di Kampus Kasih UKI. Kami sangat menghargai Bapak / Ibu / Saudara /i yang rela menempuh perjalanan dari daerah masing-masing untuk berbagi pengalaman dan ide dalam simposium ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada pimpinan fakultas dan program studi atas dukungan yang diberikan. Saya juga mengapresiasi kerja keras adik-adik mahasiswa yang terlibat sebagai panitia. Semoga simposium ini membekali kita dengan pengalaman baru untuk kita terapkan dalam tugas kita sebagai pendidik,” ujar Ibu Asri Purnamasari, M.Ed. in TESOL dalam sambutannya sebagai Ketua Panitia pada pembukaan 2018 Symposium on The Power of Extensive Reading.

ER1Simposium itu diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP-UKI pada hari Jumat, 6 Juni 2018 di Ruang video Conference, Kampus UKI Cawang, Jakarta Timur dengan bekerjasama dengan Extensive Reading Foundation (ERF) dan The Indonesian Extensive Reading Association (IERA). Simposium yang dihadiri oleh lebih dari 90 peserta dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan bahasa dari berbagai daerah di Indonesia itu menghadirkan 5 pembicara, yakni Dr. Rob Waring, Dr. Willy A. Renandya, Yusefa Iswandari, Parlindungan Pardede dan Saniago Dakhi.

Dalam paparannya, Willy A. Renandya menjelaskan bahwa ratusan, bahkan ribuan penelitian telah mengungkapkan Extensive Reading sangat efektif untuk meningkatkan penguasaan bahasa kedua atau bahasa asing. “Pakar-pakar ternama dalam pembelajaran Bahasa Inggris sangat menganjurkan implementasi Extensive Reading untuk membantu siswa,” imbuh, guru besar National Institute of Education, Nanyang Technological University Singapore yang juga merupakan salah seorang Direktur Eksekutif ERF ini.

ER4“Extensive Reading perlu diterapkan berdasarkan minat pembelajar sendiri. Itulah sebabnya bahan bacaan yang disediakan dalam program Extensive Reading harus menarik bagi siswa dan sesuai dengan tingkat kemahiran membaca yang mereka miliki. Dengan demikian, aktivitas membaca akan memberikan impak emosional yang pada gilirannya membentuk hasrat membaca dalam diri siswa. Jika dorongan itu sudah terbentuk, siswa akan membaca banyak teks dan secara otomatis  mengembangkan kemampuan berbahasanya,” papar Dr. Rob Waring, guru besar Notre Dame Seishin University Japan yang juga merupakan Direktur Eksekutif ERF.

Yuseva Iswandari, dosen di Universitas Sanata Darma Yogyakarta, yang saat ini dipercaya menjabat Presiden IERA memaparkan berbagai program dan aktivitas yang diselenggarakan oleh asosiasi yang dipimpinnya. Beliau juga menghimbau agar para pendidik yang hadir mulai berupaya melaksanakan program Extensive Reading di institusi masing-masing.

Dalam sesi presentasinya, Parlindungan Pardede, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI,  memaparkan beberapa tantangan yang sering timbul dalam implementasi Extensive Reading dan sekaligus menawarkan satu alternatif untuk sebagai jawaban. “Menyediakan buku dalam jenis dan tingkat kesulitan yang bervariasi serta dalam jumlah yang banyak pasti membutuhkan biaya yang besar. Memantau setiap siswa untuk mengetahui bahwa dia benar-benar melakukan kegiatan membaca serta memberi bantuan bagi siswa yang menemukan kesulitan juga tidak mudah dilakukan. Kita beruntung bahwa teknologi informasi dan komunikasi sangat mungkin kita gunakan untuk menjawab tantangan-tantangan itu. Oleh karena itu, kita perlu berkreasi untuk menerapkan Online Extensive Reading.”

Saniago Dakhi, Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UKI, yang mengisi sesi terakhir memaparkan hasil analisisnya terhadap konten artikel-artikel dalam jurnal-jurnal ilmiah nasional bidang pengajaran Bahasa Inggris. Dari ratusan artikel yang dipublikasikan dalam enam jurnal terakreditasi yang terbit selama 5 tahun terakhir, terdapat hanya 9 (2,12%) artikel yang membahas “reading”, dan tak satupun dari artikel itu yang menyoroti Extensive Reading. Temuan ini menunjukkan betapa kurangnya perhatian terhadap pengembangan kemahiran membaca, khususnya ‘Extensive Reading’,” tandas Pak Saniago.

Dari berbagai respon peserta, terungkap semangat untuk mengupayakan implementasi ‘Extensive Reading’ di institusi atau kelas masing-masing. Semoga semangat itu terus membara untuk menumbuhkembangkan minat besar generasi muda Indonesia untuk membaca.

ER2